Friday, 18 January 2013

Koalisi Pendidikan Tolak Perubahan Kurikulum


Perubahan kurikulum yang akan mulai diterapkan pada Juni 2013 ini tak henti mendapat hantaman dari berbagai pihak. Kini giliran Koalisi Pendidikan, yang terdiri dari praktisi pendidikan, orangtua murid, aktivis Indonesia Corruption Watch, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), menyuarakan penolakan Kurikulum 2013.
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Lody Paat, mengatakan bahwa perubahan kurikulum ini justru membongkar keseluruhan kurikulum dalam waktu yang dinilai terburu-buru. Menurut dia, perubahan ini juga tidak dapat menjamin pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik.
"Kami akan buat petisi untuk masalah kurikulum ini. Kami menolak keras perubahan ini dan sebaiknya ditunda," kata Lody, saat jumpa pers di Kantor ICW, Jalan Kalibata Timur, Jakarta, Rabu (5/12).
Ada enam alasan yang melandasi penolakan dari koalisi pendidikan ini. Pertama, koalisi menilai, alasan yang dikemukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak jelas serta tidak mendasar. Yang kedua, perubahan kurikulum ini dinilai dilakukan secara reaktif tanpa ada visi yang jelas mengenai pendidikan.
Alasan selanjutnya, perubahan kurikulum ini dinilai tidak didahului dengan riset dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut koalisi, semestinya, pemerintah dapat menjelaskan kekurangan dari KTSP sehingga mengakibatkan perubahan kurikulum yang nyaris membongkar standar yang ada.
"Ini kan tidak riset main ganti saja. Harusnya ada riset yang jelas. Apa yang jadi masalah dari KTSP. Kemudian tak cukup uji publik, tapi diuji coba juga," ujar Lody.
Alasan keempat, para guru yang disebut sebagai ujung tombak dari pelaksanaan kurikulum baru ini justru tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan kurikulum ini. Begitu pula dengan pakar pedagogik yang seharusnya ikut serta justru tidak diajak menyusun kurikulum baru ini.
Tidak hanya itu, perubahan kurikulum ini juga terkesan dipaksakan dan asal-asalan sehingga berakibat para guru dan murid yang menjadi korban. Yang terakhir, perubahan kurikulum ini hanya akan menguntungkan penerbit buku dan justru membebani orangtua murid.
"Dengan berbagai alasan ini, kami menolak perubahan kurikulum dan mengajak masyarakat untuk bergerak juga menolak," ujarnya.
Antara.com | 5-12-2012 |
Berharap pada Kurikulum 2013
Adagium yang menyatakan ”ganti menteri, ganti kurikulum” tak sepenuhnya salah. Belum semua sekolah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006, kini kurikulum sudah berganti lagi dengan Kurikulum 2013.

Sebelumnya juga sudah ada Kurikulum 1984 yang menekankan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Kurikulum 1994, dan Kurikulum 2004 yang dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Pertanyaan yang kemudian muncul, kurikulum sering berganti, tetapi mengapa cara mengajar guru di depan kelas tidak berubah? Guru tetap sebagai pusat pembelajaran (teacher centered learning), sedangkan siswa hanya pasif mendengarkan. Akhirnya, timbul kesan, perubahan kurikulum menjadi sia-sia karena tidak diikuti perubahan metode pengajaran.
”Berdasarkan pengalaman itulah, dalam penerapan Kurikulum 2013, guru mendapat pelatihan khusus,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.
Perubahan kurikulum pun, menurut Nuh, bukan sesuatu yang ditabukan dan dilarang. Justru kurikulum harus diubah sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.
Perubahan kurikulum dilakukan karena Kurikulum 2006 dianggap masih menimbulkan berbagai fenomena negatif, seperti beban siswa terlalu berat karena terlalu banyak pelajaran serta kurang bermuatan karakter sehingga memunculkan plagiarisme, kecurangan, perkelahian pelajar, dan berbagai persoalan lain.
Diramu dengan tantangan masa depan, seperti tantangan globalisasi, persoalan lingkungan hidup, perkembangan teknologi informasi, serta kompetensi individu yang mampu berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, serta kompetensi lain, jadilah Kurikulum 2013 yang akan diterapkan secara bertahap di SD, SMP, dan SMA.
Sebelum diterapkan, rancangan kurikulum ini diuji publik untuk mendapat masukan dan penyempurnaan. ”Semoga saja uji publik tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan betul-betul menyerap aspirasi yang berkembang di masyarakat,” kata Itje Chodidjah, pelatih guru di sejumlah sekolah.

Didiskusikan
Untuk menampung berbagai pikiran yang berkembang di masyarakat, harian Kompas beberapa waktu lalu juga menyelenggarakan diskusi terbatas dengan menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim, pelatih guru Henny Supolo Sitepu dari Yayasan Cahaya Guru, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia S Hamid Hasan, serta Guru Besar Matematika dan IPA Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto.
Dari hasil diskusi tersebut terungkap kekhawatiran, Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu bagus dalam tataran konsep dan bahasa kurikulum sangat indah, tetapi sangat buruk dalam penerapan. Ambil contoh Kurikulum 1984 yang mengharuskan siswa aktif ataupun Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi. Dengan kurikulum itu, aktivitas belajar semestinya berpusat pada siswa.
”Kenyataannya, pola mengajar guru tidak berubah. Guru tetap memberikan materi di depan kelas dan murid mendengarkan. Guru tidak bisa disalahkan karena guru tidak pernah diberikan pelatihan,” kata Henny Supolo.
Menghadapi persoalan ini, menurut Wakil Mendikbud Musliar Kasim, guru-guru akan dilatih sebelum Kurikulum 2013 diterapkan. Kemdikbud akan memilih sekitar 40.000 guru terbaik sebagai pelatih inti atau master trainer. Mereka selanjutnya melatih sekitar 350.000 guru selama enam bulan.
Penerapan kurikulum pun tidak dilakukan sekaligus, tetapi dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu pembelajaran. Pada tahun pertama, misalnya, kurikulum akan diterapkan di kelas I dan IV SD, kelas VII SMP, dan kelas X SMA. ”Jadi, dari sekitar 2,9 juta guru, tidak sekaligus semua guru dilatih,” kata Mendikbud Mohammad Nuh.
Meski demikian, pelatihan ini tetap dikritik banyak kalangan. Misalnya, tidak mudah mengubah kebiasaan guru yang selama ini menjadi ”sumber kebenaran” dengan memberikan materi di depan kelas menjadi pendorong siswa agar aktif, kreatif, dan memiliki semangat inovatif. Apalagi, latar belakang pendidikan guru di Indonesia masih sangat tidak memadai. Hanya 22,6 persen guru SD yang sarjana dan tidak sampai 28 persen guru SMP yang sarjana. Itu pun rata-rata umurnya sudah di atas 40 tahun yang tak terbiasa mendorong kreativitas siswa.
”Bagi kami, lebih baik penerapan Kurikulum 2013 ditunda,” kata Henny Supolo.

Pemadatan pelajaran
Persoalan yang mengemuka dalam Kurikulum 2013 adalah arah yang hendak dicapai melalui kurikulum ini. Dalam kompetensi lulusan, misalnya, diharapkan memiliki karakter mulia. ”Karakter mulia itu ukurannya apa? Harus lebih jelas dan tegas sehingga semua pihak bisa mengukur apakah kompetensi sudah tercapai atau belum,” kata Henny Supolo.
Kompas.com | 7-12-2012 |

Kurikulum 2013


Kurikulum Baru Utamakan Kompetensi Berimbang
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan segera memaparkan mengenai perombakan kurikulum yang akan dilakukan untuk tahun ajaran 2013/2014 kepada Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono. ”Kurikulum baru ini lebih mengutamakan kompetensi anak yang tecermin dalam tiga hal,” kata Musliar Kasim Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Musliar Kasim mengatakan bahwa materi yang akan disampaikan kepada Wakil Presiden masih ada kemungkinan berubah. Hal tersebut tergantung masukan yang diberikan oleh orang nomor dua di Indonesia tersebut.
"Yang disampaikan besok juga belum final. Tapi kami lebih utamakan untuk mendapatkan kompetensi yang berimbang. Jadi yang pertama attitude. Selanjutnya skill dan knowledge," kata Musliar.
Sementara untuk jumlah mata pelajaran masing-masing jenjang sekolah akan diajukan sesuai dengan yang telah diberitakan sebelumnya. Untuk tingkatan sekolah dasar (SD), hanya akan ada enam mata pelajaran wajib, yaitu PPKn, Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni Budaya, dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).
Untuk jenjang SD ini, Kemdikbud memang lebih menitikberatkan pada pembentukan sikap sehingga diharapkan muncul generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mempunyai sikap yang baik dan bijak ke depannya.
"Untuk mata pelajaran wajib tetap enam. Tapi itu bukan berarti tidak ada sains. Sains tetap ada untuk anak SD tapi diintegrasikan dengan mata pelajaran lain," katanya.
Seperti diketahui, kurikulum baru yang akan diberlakukan pada tahun ajaran 2013/2014 ini memiliki sasaran dalam setiap jenjang. Untuk tingkat SD, diprioritaskan untuk pembentukan sikap. Sementara tingkat SMP difokuskan untuk mengasah keterampilan dan untuk tingkat SMA dimulai membangun pengetahuan. Kurikulum baru fokus pada attitude, skill, dan knowledge.
Antara.com | Senin, 12-11-2012 |
*****
Kurikulum Pendidikan Berubah
Pemerintah akan merubah kurikulum Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)dengan menekankan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi.
"Siswa untuk mata pelajaran tahun depan sudah tidak lagi banyak menghafal, tapi lebih banyak kurikulum berbasis sains," kata Mohammad Nuh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kantor Wapres Jakarta, Selasa (13/11).
Mohammad Nuh mengatakan, orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Untuk tingkat SD, saat ini ada 10 mata pelajaran yang diajari yaitu pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, serta muatan lokal dan pengembangan diri.
Tapi mulai tahun ajaran 2013/2014 jumlah mata pelajaran akan diringkas menjadi tujuh, yaitu pendidikan agama, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, seni budaya dan prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, serta Pramuka.
"Khusus untuk Pramuka adalah mata pelajaran wajib yang harus ada di mata pelajaran, dan itu diatur dalam undang-undang," kata Nuh.
Salah satu ciri kurikulum 2013, khususnya untuk SD, adalah bersifat
tematik integratif. Dalam pendekatan ini mata pelajaran IPA dan IPS sebagai materi pembahasan pada semua pelajaran, yaitu dua mata pelajaran itu akan diintegrasikan kedalam semua mata pelajaran.
Dikatakan untuk IPA akan menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa
Indonesia dan matematika, sedangkan untuk IPS akan menjadi pembahasan materi pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).
Mendikbud mengatakan, kurikulum 2013 itu diharapkan bisa diterapkan mulai tahun ajaran baru 2013, tapi sebelumnya akan diuji publik sekitar November 2012.
"Masyarakat bisa memberikan masukan atas setiap elemen kurikulum mulai dari standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses hingga standar evaluasi. Adanya uji publik ini diharapkan kurikulum yang terbentuk telah menampung aspirasi masyarakat," papar Nuh.
Antara.com | Selasa, 13-11-2012 |


Peleburan IPA-IPS Tidak Kurangi Substansi


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan peleburan atau penyederhaan mata pelajaran IPA-IPS di jenjang sekolah dasar (SD) tidak akan mengurangi substansi pengetahuan yang didapat oleh peserta didik.
“Peleburan mata pelajaran IPA-IPS tidak akan mengurangi subtansi pengetahuan, karena tetap diajarkan yang diintegrasikan dengan tema-tema,” kata Mohammad Nuh dalam jumpa pers dengan wartawan di Jakarta, Kamis (6/12/12).
Menurut dia, salah satu ciri kurikulum 2013, khususnya untuk SD, adalah bersifat tematik integratif. Artinya, pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu.
“Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema energi dapat diajarkan bagaimana pembangkit listrik dimanfaatkan dengan aliran sungai dan menggunakan Bahasa Indonesia,” paparnya.
Ia melanjutkan bahan yang menjadi obyek pelajaran yaitu, fenomena sosial, budaya, dan alam.
Usia anak-anak di SD yang dibutuhkan, kata dia, adalah keutuhan berpikir atau diajarkan bagaimana berpikir secara holistik.
“Mereka tidak diajarkan pendidikan spesialis, tapi pendidikan secara
holistik,” ucapnya.
Untuk tingkat SD, lanjut dia, saat ini ada 10 mata pelajaran yang diajari, yaitu pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, serta muatan lokal dan pengembangan diri.
“Beban pelajaran sekolah yang dipikul anak-anak sekarang terlalu berat,” tuturnya.
Sebelumnya, Dosen pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta Sam Mukhtar Chaniago, mengatakan penggabungan mata pelajaran IPA dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 dianggap tidak
fokus.
“Belajar bahasa itu bisa masuk ke sains ataupun ilmu sosial. Jangan dibalik, Bahasa Indonesia memakai konsep sains atau ilmu pengetahuan sosial,” ujar Sam Mukhtar Chaniago, dalam diskusi di Jakarta, Senin (3/12).
Sementara itu, Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto, mengatakan jika IPA atau IPS diajarkan ke dalam Bahasa Indonesia, perlu dipertanyakan pengukurannya. Perlu diperjelas apakah pembelajaran tersebut berdasarkan kaidah bahasa atau sains.
“Bangsa ini perlu menguatkan pendidikan dalam sains, teknologi, teknik, seni, dan rekayasa. Hal ini bisa menjadi modal bangsa untuk memajukan peradaban,” kata dia.
Antara.com | Kamis, 6 Desember 2012 |
*****
Pendidikan IPA SD Perlu Tersendiri
Penggabungan IPA dalam mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia di jenjang Sekolah Dasar masih menuai pro-kontra. Namun, dari berbagai masukan soal struktur kurikulum di SD, pendidikan sains dirasakan tetap perlu ditonjolkan sebagai mata pelajaran tersendiri.
"Kalau kita cermati kurikulum 2013, pendidikan sains di jenjang dasar sampai menengah jadi terkesan tidak nyambung. Di jenjang SD, keinginan pemerintah sepertinya ingin sains terintegrasi di pelajaran lain, seperti Bahasa Indonesia. Tetapi jenjang SMA nanti yang diminta kompetensi metakognisi atau melampaui kognitif," kata Nuryani Y Rustaman, Ketua Himpunan Sarjana Pendidikan IPA Indonesia yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (14/12).
Menurut Nuryani, pendidikan sains tetap perlu diperkenalkan sebagai mata pelajaran tersendiri sejak di SD. Tentu saja, pembelajaran sains di SD yang saat ini dikeluhkan berat harus diubah sedemikian rupa sehingga jadi menyenangkan.
"Mengapa sains terasa berat buat anak SD karena yang diajarkan selama ini pengetahuannya atau hafalannya. Adapun proses untuk membuat siswa jadi menyenangi pelajaran sains dan terbentuk budaya ilmiahnya selama proses belajar sains memang terbaikan," kata Nuryani.
Nuryani menambahkan, dalam pembelajaran sains siswa perlu mengalami sendiri lewat penelitian sederhana. "Dikhawatirkan, nanti IPA kembali jadi pengetahuan semata lewat membaca buku teks kalau IPA dititipkan ke Bahasa Indonesia," kata Nuryani.
Trend dunia pun saat ini memang mengutamakan pendidikan sains yang diperkenalkan sejak dini. Penilaian-penilaian di dunia juga mengukur sains, seperti Indonesia yang mengikuti penilaian PISA dan TIMSS yang menekankan literasi matematika, sains, dan bahasa, tentu perlu fokus.
Soal pembelajaran sains di SD, pemerintah memberikan tiga alternatif di kurikulum 2013. Alternatif pertama, tidak ada mata pelajaran sains karena terintegrasi di pelajaran lain, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika.
Selain itu, semua pembelajaran tematik integratif di SD dilaksanakan dengan pendekatan sains yakni siswa mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.
Alternatif kedua, mata pelajaran IPA diperkenalkan mulai kelas IV - VI. Adapun alternatif ketiga di kelas V-VI.
"Kami memperjuangkan supaya IPA dimulai sedini mungkin. Jika pemerintah bersikeras, kami memperjuangkan alternatif kedua, yakni dimulai dari kelas IV SD," jelas Nuryani.
Nuryani justru mengkritisi keinginan pemerintah yang ingin menguatkan karakter siswa dengan menambah jam pelajaran di PPKn dan Agama. "Pendidikan sains juga dapat membentuk budaya ilmiah siswa. Ini jangan diartikan bahwa inetelektualitasnya saja yang diutamakan, tetapi karakter siswa yang ilmiah juga terbentuk," ujar Nuryani.
Dengan dikembangkannya sikap ilmiah siswa lewat pembelajaran sains yang benar, lanjut Nuryana, siswa dapat mengembangkan sikap ingin tahu dan senantiasa mendahulukan bukti. Selain itu, siswa menjadi luwes terhadap gagasan baru, menerenung secara kritis, dan peka/peduli terhadap mahluk hidup dan lingkungan.
Sementara itu, Suhertuti, dosen di jurusan bahasa dan sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, mengatakan bahasa itu sebagai alat untuk mempelajari apa saja. "Jadi, tidak masalah belajar bahasa diintegrasikan ke mata pelakaran lain, malah lebih bagus. Tetapi tentu saja untuk di SD fokusnya bukan mengajarkan bahasa-bahasa ilmiah atau menulis ilmiah. tetap bisa fokus ke IPA-nya, kata Suhertuti.
Menurut Suhertuti, dalam pengintegrasian bahasa dan mata pelajaran lain, perlu kemampuan guru untuk kreatif dalam pembelajaran. Selain itu, harus jelas kompetensi penilaian yang dikehendaki sehingga pengintegrasian tersebut bermakna yang membuat siswa semakin memahami konsep IPA secara menyenangkan.
Khairil Anwar Notodipuro, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian dan Kebudayaan, mengatakan meskipun IPA atau IPS terintegrasi sebenarnya secara substansi tidak akan hilang. Pembelajaran tematik integratif dilaksanakan dengan pendekatan sains dan memfokuskan pada fenomena alam, sosial dan budaya sebagai obyek pembelajaran. 
"Pemerintah sedang meminta masukan mana yang terbaik. Karena itu, kami berharap bukan cuma kritikan dan opini, tetapi solusi yang pas untuk penyempurnaan kurikulum 2013," demikian kata Khairil.
*****
 IPA-IPS Mestinya Jadi Mata Pelajaran Sendiri
Tidak munculnya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai mata pelajaran sendiri dalam struktur kurikulum untuk jenjang sekolah dasar (SD) masih terus menjadi perdebatan. Banyak pihak yang menuntut agar dua mata pelajaran ini tetap berdiri sendiri sebagai mata pelajaran.
Praktisi Pendidikan dari Universitas Paramadina, Abduh Zein, mengatakan bahwa mata pelajaran IPA dan IPS semestinya tidak diintegrasikan begitu saja pada mata pelajaran lain. Menurutnya, ilmu yang ada dalam dua mata pelajaran tersebut justru yang mendorong pola pikir anak terbentuk.
"Sains ini membentuk pikiran anak untuk masa depan, tapi justru dikeluarkan," kata Zein, saat Focus Group Discussion Menyoal Kurikulum 2013 di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta.
"Indonesia ini kan cenderung ada di alam mistis, jadi butuh fakta-fakta nyata seperti yang muncul dalam sains," imbuh Zein.
Untuk itu, pola berpikir scientific ini semestinya ditanamkan sejak dini, yaitu sejak jenjang SD. Namun, dengan adanya perombakan kurikulum yang hanya mewajibkan enam mata pelajaran tanpa IPA dan IPS di dalamnya, pola pikir tersebut sulit terbentuk.
"SD perlu penanaman berpikir scientific sejak dini, tapi dengan kurikulum baru ini jadi nggak nyambung," ujar Zein.
Ia memberi contoh jika pelajaran IPA dengan Bahasa Indonesia diintegrasikan melalui tugas membuat tulisan tentang salah satu fenomena alam, belum tentu sasaran yang diharapkan dari integrasi tersebut akan tercapai dengan sempurna.
"Misalnya menjelaskan nilai scientific dengan pola kalimat yang baik dan benar. Bisa saja, tapi kalau gagal melaksanakan itu, nilai yang penting justru akan terbengkalai," tandasnya.
Antara.com | November-Desember 2012 |


*****
Sains Diajarkan Kelas IV SD
Pendidikan sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai mata pelajaran tersendiri diajarkan mulai kelas IV hingga VI SD. Adapun di kelas I, II, dan III SD, pendidikan sains diintegrasikan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia secara tematik dan integratif.
“Saat uji publik, masyarakat menginginkan mata pelajaran IPA dimulai kelas IV hingga VI SD. Dukungan juga salah satunya dari narasumber pengembangan Kurikulum 2013,” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim dalam rapat dengar pendapat antara pemerintah dan Panitia Kerja (Panja) Kurikulum Komisi X DPR di Jakarta.
Musliar menjelaskan, Kurikulum 2013 bukanlah kurikulum yang baru sama sekali, melainkan pengembangan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku selama ini.
“Penyempurnaan Kurikulum 2013, antara lain, mengacu pada Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) serta Programme for International Student Assessment (PISA) dengan menambahkan materi dan kompetensi yang mengacu ke standar yang dilaksanakan negara-negara maju,” kata Musliar.
S Hamid Hasan dari Tim Inti Pengembangan Kurikulum 2013 mengatakan, pengintegrasian IPA dengan pelajaran lain di kelas I, II, dan III SD dimaksudkan agar siswa memahami konsep pendidikan IPA dalam kehidupan masyarakat.
Sementar itu, dalam Desain Induk Kurikulum 2013 yang diserahkan ke DPR, dinyatakan pelajaran IPA di kelas IV SD alokasi waktunya tiga jam per minggu, sementara dalam pelajaran seni budaya dan prakarya, termasuk juga muatan lokal yang dapat memuat bahasa daerah. Pengajaran bahasa daerah dalam muatan lokal diserahkan ke setiap sekolah atau daerah.
Yohanes Surya, fisikawan dan pendiri Surya Institute, menyambut baik jika akhirnya pelajaran IPA ditetapkan sebagai mata pelajaran sendiri sejak kelas IV SD. “Awalnya pemerintah menginginkan semua mata pelajaran di SD diajarkan secara tematik-integratif. Namun, kami memandang perlu pelajaran IPA diajarkan tersendiri. Kami memperjuangkan setidaknya diajarkan sejak kelas IV SD. Keputusan pemerintah kami sambut baik,” kata Yohanes.
Menurut Yohanes, jika IPA tidak diajarkan sejak SD, tidak ada kesempatan bagi siswa yang menyukai sains untuk mendalaminya. Padahal, pembelajaran IPA bagi anak-anak bisa dibuat menarik sehingga sejak dini anak tertantang untuk bisa menjadi ilmuwan sains.
Nuryani Y Rustaman, Ketua Himpunan Sarjana Pendidikan IPA Indonesia, mengatakan, IPA harus diajarkan secara terpisah sejak SD, apalagi kemampuan sains anak Indonesia masih rendah. Jika keluhannya selama ini pelajaran IPA terlalu berat, solusinya materi pelajaran yang perlu diubah dengan banyak praktik sehingga menyenangkan siswa. “Bukan malah dihapus atau diintegrasikan," ungkap Nuryani.
Sebelumnya, Panja Kurikulum DPR mendesak pemerintah segera menyerahkan desain induk dan dokumen resmi Kurikulum 2013. "Pemerintah juga harus berani membuka anggaran soal kurikulum,” kata Ferdiansyah, anggota Panja Kurikulum Komisi X DPR.
 KOMPAS.com | Rabu, 16 Januari 2013 |

Pendidikan Sains Kurang Fokus


Penggabungan mata pelajaran IPA dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 dianggap tidak fokus. Di satu sisi pemerintah menyatakan sarjana bidang sains sangat kurang. Namun, di sisi lain pendidikan sains kurang mendapat tempat. Padahal, pendidikan sains perlu ditanamkan sejak dini. Penggabungan sains dengan Bahasa Indonesia pun membingungkan soal fokus materinya.
”Belajar bahasa itu bisa masuk ke sains ataupun ilmu sosial. Jangan dibalik, Bahasa Indonesia memakai konsep sains atau ilmu pengetahuan sosial,” kata Sam Mukhtar Chaniago, dosen pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta, dalam acara diskusi panel Kurikulum 2013 dan Tantangan Masa Depan Indonesia, di Jakarta, Senin (3/12/12).
Hadir sebagai pembicara Ketua Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia S Hamid Hasan, Henny Supolo Sitepu dari Yayasan Cahaya Guru, Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto, serta Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim. Acara dimoderatori pelatih guru nasional Itje Chodidjah.
Menurut Sam, bahasa dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. Sebab, kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dapat dikembangkan pada semua mata pelajaran dengan tematik integratif.
Iwan mengatakan, jika IPA atau IPS diajarkan ke dalam Bahasa Indonesia, perlu dipertanyakan pengukurannya. Perlu diperjelas apakah pembelajaran tersebut berdasarkan kaidah bahasa atau sains.
Menurut Iwan, bangsa ini perlu menguatkan pendidikan dalam sains, teknologi, teknik, seni, dan rekayasa. Hal ini bisa menjadi modal bangsa untuk memajukan peradaban.
Hamid menuturkan, di jenjang SD, sebanyak 60 persen content IPA dan IPS yang sekarang ini dikurangi. Sebab, di SD bukan pendidikan yang berdasarkan disiplin ilmu. ”Content dari disiplin ilmu itulah yang dikembangkan ke kompetensi,” kata Hamid.
Musliar mengemukakan, pengembangan Kurikulum 2013 ini akan mengubah pembelajaran di kelas yang membuat siswa belajar aktif. Kurikulum yang dikembangkan pemerintah ini bersifat minimal, sekolah boleh mengembangkan sesuai kebutuhan.
”Dibukanya dokumen kurikulum untuk uji publik dalam rangka menjaring masukan untuk penyempurnaan,” kata Musliar.
Antara.com | 5 Desember 2012

Wednesday, 16 January 2013

Bahasa Daerah Dalam Kurikulum Baru Dipertanyakan


Uji publik pengembangan kurikulum 2013 yang dilakukan di Yogyakarta beberapa waktu lalu, memunculkan pertanyaan mengenai keberadan  bahasa daerah dalam mata pelajaran untuk anak-anak sekolah dasar (SD), mengingat mata pelajaran wajib hanya terdiri dari Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Penjaskes dan Seni Budaya.
Salah seorang guru dari SD Muhammadiyah Banguntapan, Heriyanto, mengatakan, untuk jenjang pendidikan dasar di Yogyakarta, masih ada mata pelajaran bahasa Jawa yang wajib diketahui oleh siswa. Pasalnya, adanya mata pelajaran ini juga merupakan cara untuk melestarikan budaya yang ada.
"Kami di daerah ada pelajaran bahasa daerah. Ini mau ditaruh di mana? Padahal, ini penting karena berkaitan dengan pelestarian budaya," kata Heri saat Uji Publik Pengembangan Kurikulum 2013 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yogyakarta, (4/12/2012) kemarin.
Ia juga mengungkapkan bahwa siswa-siswanya saat ini lebih fasih berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, sementara perlahan bahasa Jawa yang merupakan bahasa daerah di Yogyakarta menjadi hilang dan hanya digunakan oleh orang-orang tua.
Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa kurikulum yang diujikan ini adalah desain minimum sehingga sekolah masih dapat mengembangkan dan menambahkan mata pelajaran yang dianggap perlu sebagai salah satu muatan lokal.
"Itu di dalam mulok kan ada seni budaya. Bahasa daerah bisa dimasukkan ke situ. Jadi, sekolah boleh menambah di situ," ujar Nuh.
Ia mengaku setuju bahwa bahasa daerah merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan agar tidak hilang tergerus zaman. Untuk itu, bagi daerah-daerah yang memang memiliki bahasa daerah sebagai mata pelajaran, terbuka untuk memasukkannya dalam komponen mata pelajaran seni budaya yang merupakan bagian dari muatan lokal.
"Silakan saja untuk bahasa daerah. Sekolah bisa tambah lagi selama masih sesuai," tandasnya (*)

Kurikulum Baru Tidak Hapus Mata Pelajaran


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan tidak ada penghapusan mata pelajaran pada kurikulum 2013 yang kini sedang uji publik. 
"Mata pelajaran diintegrasikan bukan dihapus karena IPA dan IPS tetap akan masuk dalam kurikulum pelajaran sekolah dasar," kata Mendikbud ketika sosialisasi masalah kurikulum 2013 di Palembang, Minggu (2/12/2012).
M Nuh mengatakan, meski sejumlah pelajaran seperti IPA dan IPS diintegrasikan dalam pelajaran lain, namun dalam kurikulum 2013 yang kini sedang dalam tahapan uji publik menekankan pendidikan berbasis kompetensi, yakni sejak sekolah dasar anak diajarkan bagaimana bersikap jujur, memiliki keterampilan dan wawasan luas atau berilmu. 
”Dari 10 mata pelajaran sekolah dasar disisakan enam, seperti Bahasa Indonesia dan Matematika. Matematika dan saint menjadi landasan untuk mendorong generasi muda berpikir rasional,” ujarnya.
Nuh menambahkan,  kurikulum sesuai dengan perkembangan zaman adalah keharusan yang kini dibutuhkan untuk mendorong kualitas pendidikan. Dengan melibatkan semua lapisan aktif mendorong siswa yang berkompetensi, termasuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan guru.
Kemendikbud berkeliling daerah untuk melaksanakan uji publik kurikulum tahun 2013.
Sumatera Selatan menjadi daerah kedua uji publik setelah Yogyakarta, sebelum dilaksanakan tahun ajaran baru kurikulum 2013. 

Alasan Dirombaknya Kurikulum

Kontroversi terhadap perubahan kurikulum ini terus bermunculan. Banyak pihak menanyakan alasan digantinya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013 dengan standar isi yang jauh berbeda, khususnya untuk pendidikan tingkat dasar.
Direktur Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Ditjen Dikdas Kemendikbud Ibrahim Bafadal mengatakan bahwa perubahan ini juga melihat kondisi yang ada selama beberapa tahun ini. KTSP yang memberi keleluasaan terhadap guru membuat kurikulum secara mandiri untuk masing-masing sekolah ternyata tak berjalan mulus.
"Tidak semua guru memiliki dan dibekali profesionalisme untuk membuat kurikulum. Yang terjadi, jadinya hanya mengadopsi saja," kata Ibrahim ketika dijumpai seusai Pemberian Penghargaan Siswa Berprestasi Tingkat Internasional dan Penganugerahan Piala Apresiasi Sastra Bagi Peserta Didik Sekolah Dasar, di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, (30/11/2012) kemarin.
Ia menyatakan, untuk itu, kurikulum yang baru ini dibuat dan dirancang oleh pemerintah, terutama untuk bagian yang sangat inti. Dengan demikian, pihak sekolah dan guru tinggal mengaplikasikan saja pola yang sudah dimasukkan dalam struktur kurikulum untuk masing-masing jenjang tersebut.
"Jadi untuk pendidikan dasar, kami ambil yang sangat inti, seperti PPKn, Agama, Bahasa Indonesia, dan Matematika," ungkap Ibrahim.
Ia mengakui bahwa untuk tingkat SD terjadi perubahan yang cukup besar mengingat basis tematik integratif yang dianut saat ini. Mata pelajaran yang dulu ada 10 bidang dikurangi menjadi tersisa enam mata pelajaran saja dengan pembagian empat mata pelajaran utama dan dua mata pelajaran muatan lokal.
"Kami yakin dengan revisi ini, pendidikan di Indonesia akan menghasilkan generasi yang jauh lebih baik lagi dan siap menjawab tantangan ke depan," tandasnya. (*)