Friday, 5 July 2013

Modifikasi Kurikulum



Abdul Salim, mahasiswa Program Pascasarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta meraih gelar Doktor UNS ke-74 seusai berhasil mempertahankan disertasi di depan Dewan Penguji di Ruang Senat UNS, Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/7/2013).
Di depan Dewan Penguji yang dipimpin Prof Dr. Ravik Karsidi, MS, Abdul Salim mempertahankan disertasinya berjudul Model Modifikasi Kurikulum dan pembelajaran Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial bagi Anak Dengan Keterbatasan Potensi Intelektual di Sekolah Dasar Inklusif. Abdul Salim berhasil memperoleh nilai, 3,75 dengan predikat cum laude.
Dalam disertasinya, Abdul Salim mengungkapkan bahwa ada persoalan mendasar yang sering dihadapi oleh pelaksana pendidikan inklusif di lapangan terutama guru tentang bagaimana memberikan pelayanan pendidikan dan pembelajaran yang tepat kepada Anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif.
Berdasarkan hasil survei, kata Salim, ada sebanyak 71,05 persen guru pembimbing khusus yang kurang baik memahami tentang konsep pendidikan inklusif. Hanya 28,94 persen yang baik. Begitu pula kemampuan guru pembimbing khusus tentang pembelajaran kompensatoris yang termasuk baik hanya sebanyak 10,52 persen, sedang 89,47 persen lainnya kurang baik.
"Bahkan umumnya atau 92,10 persen guru pembimbing khusus kurang mampu mengelola kelas inklusif. Sedang yang baik hanya 7,89 persen," jelasnya. (Okezone)

UNJA Luncurkan Antologi Penyair Singapura dan Jambi



Memeriahkan momentum hari puisi yang jatuh pada 3 Juli, Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi meluncurkan antologi bersama dua penyair yakni Rohani Din dari Singapura dan Dimas Arika Mihardja dari Jambi.
"Guna memberikan makna pada hari puisi 3 Juli yang mulai di peringati semenjak 2011 lalu ini kita menggelar kegiatan peluncuran antologi bersama dua penyair senior dari dua negeri yakni Rohani Din dari Singapura dan Dimas Arika Mihardja dari Jambi-Indonesia," kata panitia penyelenggara, DR Sudaryono di Jambi, Rabu.
Antologi bersama yang memuat karya-karya dua penyair senior beda negara yang telah bersahabat lama tersebut di beri nama 'Nikah Kata-kata' yang diluncurkan di Universitas Jambi.
Peluncuran yang di lengkapi pula dengan seminar dan bedah buku tersebut dihadiri oleh civitas akademika, para penyair dan seniman budayawan Jambi, para akademisi guru dan dosen, kritikus seni budaya, masyarakat dan mahasiswa.
"Pada seminar peluncurannya juga menghadirkan para pembicara dari kalangan akademisi Prof Yundi Fitra, DR Maizar Karim selaku kritikus, dan pihak civitas akademika Unja diwakili DR Komarudin," ungkap Sudaryono.
Dikatakannya, antologi bersama antara dua penyair berbeda negara ini adalah yang pertama dilakukan Penyair Dimas Arika Mihardja yang juga pengelola sanggar sastra Bengkel Puisi Swadaya Mandiri.
Sebelumnya penyair Jambi yang dikenal sebagai penyair gerimis karena tingkat intensitas produktivitas kekaryaannya yang tinggi tersebut telah menerbitkan puluhan buku antologi puisi baik bersama maupun antologi tunggal.
"Rohani Din adalah sahabat saya yang sangat konsisten dan produktif berkarya sastra khususnya puisi di Singapura di sela kesibukannya sebagai pengajar di salah satu universitas di Singapura, karya-karyanya memiliki tipikal yang khas melayu, karena itu dinilai pas disandingkan dengan Dimas Arika Mihardja dalam satu antologi bersama yang memuat karya mereka," kata Sudaryono.
ANTARA News | Wednesday, July 03, 2013

PGRI adalah Sari Pendidikan



Mendikbud Mohammad Nuh pada peresmian pembukaan Kongres XXI PGRI yang juga merupakan Kongres Guru Indonesia berharap dengan implementasi pendidikan universal, agar setiap anak dapat menjalankan pendidikan selama 12 tahun.
Mohammad Nuh mengaku berterima kasih kepada Sang Presiden yang selalu hadir dengan acara yang berbau pendidikan. Pasalnya, SBY yang selalu memberikan perhatian kepada para guru dan PGRI dan selalu mementingkan dunia pendidikan khususnya undangan PGRI.
"PGRI adalah sari dari sarinya pendidikan, terima kasih kepada Presiden SBY atas perhatiannya yang tulus terhadap dunia pendidikan," ujarnya pada peresmian pembukaan kongres XXI PGRI tahun 2013 di Gedung Istora, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (3/7/2013).
Lanjutnya, dengan kongres PGRI ini, diharapkan mampu membantu anak didik untuk terus melanjutkan sekolah.
"Kita semua yakin pendidikan itu sangat penting, bagaimana setiap anak bangsa yang dari mana dia berasal harus wajib sekolah. Seperti BOS, BSM, Bidik misi, yaitu program beasiswa untuk membantu kepada siswa-siswi yang kurang mampu," katanya.
Dengan demikian, M. Nuh melanjutkan, pada tahun ini akan dilaksanakan pendidikan universal, oleh karena itu anak-anak tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan sekolah, karena pendidikan universal tersebut diberlakukan wajib sekolah selama 12 tahun.
"Alhamdulillah tahun ini menerapkan pendidikan Universal, pada tahun 2020 anak-anak usia 15 - 18 tahun dalam 97 persen akan melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah," katanya.
Nuh mengimbuh bahwa, kompetensi sikap, keterampilan, pengetahuan, termasuk di dalamnya penataan, dan kesejahteraan guru-guru, apa yang disampaikan Sulistiyo insya Allah akan segera ditindaklanjuti.
"Mudah-mudahan apa yang kita lakukan menjadi amal kebaikan, sekaligus membuka Kongres PGRI ini dan insya Allah akan segera kami tindaklanjuti," imbuhnya. (Okezone)

Hasil UN 2013 Tak Seistimewa Status Aceh



Hasil Ujian Nasional (UN) 2013 tingkat SMA di Aceh cukup mengecewakan. Pasalnya, Aceh menjadi provinsi dengan tingkat ketidaklulusan tertinggi di seluruh Indonesia.
Demikian diungkapkan Gubernur Aceh Zaini Abdulah dalam peresmian penegerian Universitas Samudra (Unsam) di Langsa, Aceh Timur. Dia menyayangkan keadaan tersebut mengingat Daerah Istimewa yang disandang Aceh.
"Kami sangat terpukul dengan hasil UN SMA sebagai yang terburuk. Hal ini berbanding terbalik dengan status daerah istimewa yang dimiliki Aceh. Jadi cambuk bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan," ujar Zaini di Langsa, Aceh Timur, Kamis (4/7/2013).
Menurut Zaini, sudah menjadi tanggung jawab semua pihak, bukan hanya pendidik untuk mengatasi permasalahan tersebut. Apalagi mengingat anggaran pendidikan yang dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Aceh tidak sedikit.
"Bukan hanya tugas pendidik tapi semua pihak untuk mengembalikan ekor jadi kepala. Pemerintah daerah juga sudah mengalokasikan APDB untuk pendidikan sebesar Rp1 triliun, terbesar setelah DKI," jelasnya.
Namun, dia mengaku, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh, perlu bantuan dari pemerintah pusat, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bantuan tersebut terutama dibutuhkan dalam penyiapan penerapan kurikulum 2013.
"Kami ingin menggunakan kurikulum baru sebagai momentum peningkatan pendidikan di Aceh. Untuk itu, kami butuh bantuan pemerintah pusat dengan fokus di kelima bidang, di antaranya pelatihan tenaga pendidik dan kependidikan, penyusunan silabus diklat, dan peningkatan kualifikasi guru," imbuh Zaini.
Hal tersebut mendapat sambutan positif dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh. Dia menilai, keinginan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah harus terus mendapat dukungan penuh.
"Penandatanganan MoU tadi bukan mempertanyakan masalah tapi justru solusi untuk menyelesaikan masalah. Mengenai penegerian Unsam, misalnya. Pemerintah tidak keberatan selama orientasinya untuk kepentingan khalayak banyak," kata M Nuh.

Calon Guru Unnes Jajal Ngajar di Malaysia



JAKARTA - Program kuliah, kerja, nyata (KKL) merupakan kegiatan yang wajib diikuti para mahasiswa guna mengabdikan diri di masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, para mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) pun mendapatkan kesempatan menjajal praktik pengalaman lapangan (PPL) di Malaysia.
Sebanyak 15 mahasiswa Unnes tersebut akan mengikuti program PPL antarbangsa yang diselenggarakan atas kerjasama Unnes dengan Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. Melalui program tersebut, mereka akan mengajar di beberapa sekolah di Negeri Jiran.
Ke-15 mahasiswa tersebut akan diterjunkan di sekolah mitra UPSI, di antaranya di SMKA Slim River untuk jurusan Bimbingan Konseling dan Pendidikan Bahasa Arab, MRSM Selda (Trolak) untuk (Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Olahraga), dan SK Methodist Tanjong Malim (PGSD).
Selain itu, mereka juga tersebar di Sekolah Kebangsaan Tanjong Malim (Pendidikan Olahraga, Musik), SMK Khir Johari Tanjong Malim (Bimbingan Konseling, Pendidikan Olalahraga), SAM (sekolah agama) Rowang (Pendidikan Akuntansi, Pendidikan Bahasa Inggris), dan MRSM Kuala Kubu Bharu (Pendidikan Matematika).
Para mahasiswa tersebut adalah Edwindhana Mareza Putra dan Santi Nur Oktafiani dari jurusan Bimbingan Konseling, Rahma Huda Putranto dan Ahmad Saiful Mirza dari jurusan PGSD, Raeni dan Mia Liliawati dari Pendidikan Akuntansi, serta Arista Puji Oktafiatun, Rani Bastiyani, dan Akhmad Jalu Wijayanto dari Fakultas Ilmu Keolahragaan.
Kemudian, Shofiayuningtyas Luftiani Yusuf dan Wella Pasca Emillidha dari Pendidikan Matimatika, serta tiga Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), yaitu Dani Nur Saputra, Nafis Azmi Amrullah, Fatimah Abdurrahman Shahab, dan Septima Dewi Putri P.
“Mereka melakukan praktik mengajar di Malaysia selama dua bulan. Dan ini merupakan tahun pertama program PPL antarbangsa diselenggarakan,” ujar Rektor Unnes Fathur Rokhman, seperti dilansir oleh Okezone, Jumat (5/7/2013).
Dia mengungkap, program tersebut sangat bagus karena para calon guru dari dua kampus berbda dapat saling bertukar informasi dan pengalaman. Perbedaan budaya, cuaca tidak menjadi soal karena dari perbedaan itulah yang menambah pengetahuan para mahasiswa.
PPL Antarbangsa merupakan upaya untuk mempersiapkan calon guru yang professional dan berkualitas. Pelaksanaan PPL berlangsung mulai 8 Juli sampai 7 September 2013. Pada 9 Juli 2013, mereka mendapatkan pembekalan di UPSI dan 10 Juli mereka mulai diterjunkan ke sekolah mitra.