Tuesday, 13 March 2012

”Man Jadda Wajada”

Ustadz Salman tiba-tiba datang, selain membawa buku, tangannya yang lain juga menenteng sebilah pedang dan sebatang kayu. Dengan serta-merta ia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan memotong kayu yang dibawanya. Cukup lama Ustadz Salman memotong kayu tersebut karena memang pedang yang digunakan sudah tumpul dan berkarat pula.
“Bukan yang tajam yang dapat berhasil, melainkan yang bersunggug-sungguh, man jadda wajada,” demikian kira-kira kata yang keluar darinya usai berhasil memotong kayu tersebut. Sontak saja seisi ruangan kelas mengikuti “mantra” yang diajarkan Ustadz Salman dengan penuh semangat, “man jadda wajada.”
Itu sedikit penggalan cerita yang terdapat dalam film “Negeri 5 Menara” besutan Affandi A. Rachman. Alif, anak Minang yang kuliah di ITB dan bercita-cita seperti BJ Habibie tiba-tiba harus mengikuti orang tuanya untuk mondok di Pondok Pesantren Madani yang terletak di Ponorogo Jawa Timur. Pesantren dianggapnya tidak akan memuluskan cita-citanya. Namun, kesan yang didapat Alif dalam pelajaran pertamanya dengan Ustadz Salman telah mengubah mindset-nya.
Mantra “Man Jadda Wajada” yang berarti “yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil” begitu menghujam di dalam sanubari Alif dan “Sohibul Menara” lainnya. Segala sesuatu dapat diraih oleh siapa pun, mimpi yang tinggi seperti menara pun bisa diwujudkan selama ada keseriusan, kesungguhan dan doa tentunya. Dari pesantren inilah kemudian Alif dan sahabat-sahabatnya menggapai kesuksesan.
Banyak pelajaran bisa kita petik dari film yang diangkat dari novel dengan judul sama ini. Bahwa ternyata dunia pesantren yang selama ini kita persepsikan kumuh, kotor, jorok, dan kolot, tidak selalu benar adanya. Pesantren tidak hanya mengajarkan pendidikan kepada santri-santrinya, lebih dari itu pesantren mengajarkan mereka bagaimana menjalani kehidupan dan menjadi “orang besar” sebagaimana dipesankan kyai Rais.
 Di hadapan ribuan santrinya, Kyai Rais, menyampaikan nasihat bahwa orang besar bukanlah orang yang menduduki posisi paling atas, menyandang gelar akademis yang banyak dan bukan pula mereka yang memiliki jabatan tinggi. Orang besar adalah orang yang mengabdikan dirinya kepada masyarakat, serta membawa manfaat kepada orang yang berada di sekitarnya.
Intinya, segala cita-cita, keinginan, harapan, impian, harus diupayakan secara serius untuk meraihnya, mewujudkannya, dengan jalan mencurahkan keseriusan, fokus, dan penuh kesungguhan. Tidak hanya dalam dunia pendidikan, melainkan semua sisi kehidupan kita.
    Tidak ada yang tidak mungkin. Man Jadda Wajada.

SMP 1 Kudus Raih Sertifikat Manajemen Lingkungan

SMP 1 Kudus Jawa Tengah meraih sertifikat sistem manajemen lingkungan ISO 14001:2004 dan sebelumnya memperoleh ISO 9001:2008 di bidang sistem manajemen mutu.
"Sertifikat ISO 14001:2004 ini merupakan satu-satunya sekolah di Kudus yang mendapatkannya, selain perusahaan besar di Kudus yang juga konsen terhadap lingkungan," kata Kepala SMP Negeri 1 Kudus Oki Sudarta di Kudus.
Untuk mendapatkan ISO 14001, katanya, pengelolaan tanah, air, udara dan energi memang harus dilakukan secara disiplin, bahkan penggunaan energi listrik juga harus ditargetkan adanya peningkatan dalam berperilaku hemat.
Untuk itu, kata dia, pendingin ruangan mulai diperbolehkan hidup mulai pukul 08.00 WIB dari sebelumnya sudah dihidupkan mulai pukul 07.00 WIB.
Demikian halnya, untuk penggunaan air juga harus dijamin bersih dan sehat serta tidak mengandung zat-zat yang berbahaya.
"Meskipun berada di dekat jalan raya, udara yang ada di lingkungan sekolah dipastikan bersih dan bebas polusi," ujarnya.
Salah satu upayanya, kata dia, mobil maupun kendaraan roda dua tidak diperbolehkan masuk ke halaman sekolah karena sudah disediakan tempat parkir di depan bangunan sekolah yang berdekatan dengan jalan raya.
ISO 14001, katanya, sudah diterima sejak Agustus 2011, sedangkan sertifikat resminya baru diterima sekarang.
Proses audit untuk mendapatkan sertifikat manajemen lingkungan, katanya, dilakukan selama tiga bulan sejak Mei 2011.
Dengan diperolehnya ISO tersebut, SMP 1 Kudus dituntut untuk tetap konsisten karena sistem tersebut akan dievaluasi secara terus menerus yang melibatkan auditor eksternal.
"Semua pihak, yang terlibat dalam proses belajar mengajar akan berupaya mengerjakan seluruh aktivitas di sekolah ini untuk menyesuaikan dengan tuntutan sistem manajemen lingkungan ISO 14001:2004," ujarnya.
Penghematan dalam penggunaan energi listrik, katanya, secara bertahap akan ditingkatkan.
Sedangkan ISO 9001:2008, katanya, diterima pada Mei 2009, sebagai bukti bahwa SMP 1 Kudus memiliki standar nasional pendidikan, seperti sistem manajemen yang bermutu, transparan, dan akuntabel. 
Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa menyambut positif atas diraihnya sertifikat sistem manajemen lingkungan ISO 14001:2004 oleh SMP 1 Kudus.
"Hal ini, menjadi salah satu bukti keseriusan pemda dalam mengembangkan pendidikan berkualitas di Kudus. Bahkan, kualitas sudah bisa mencapai level nasional," ujarnya.
Ia berharap, sekolah lainnya juga mengikuti jejak SMP 1 Kudus, meningkatkan kualitas pendidikan untuk mencapai taraf nasional maupun internasional.

(Antaranews.com) 03-03-2012  |  22:07:07

Lebih Seratus Orang Laos Belajar Bahasa Indonesia

Vientiane - Seratus lima belas warga Laos dan pejabat dari Kementerian Keamanan Publik, Pertahanan Nasional, Pendidikan dan Olahraga, Kementerian Luar Negeri dan Federasi Veteran Nasional setempat telah belajar bahasa Indonesia.
    Kursus Bahasa Indonesia 2012 bertujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral sosial dan budaya serta untuk memperkenalkan kepada masyarakat umum Laos tentang budaya Indonesia, kata Kuasa Usaha Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Laos, Bambang Eko Sukartono pada pembukaan upacara dimulainya kursus Jumat lalu.
    Kursus pelatihan  enam bulan  (Maret sampai September) ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Indonesia di Vientiane, yang para peserta  belajar langsung dari guru bahasa dari  pukul 16.30-18.00 waktu setempat dari Senin sampai Kamis  di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Laos.
    Kursus ini memperoleh perhatian besar rakyat Laos dan harapan bahwa semua peserta akan menggunakan kesempatan ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang Indonesia, bukan hanya bahasa tetapi juga budaya.
    "Saya sangat bangga untuk mengumumkan bahwa kami sangat senang dengan jumlah besar dan berbagai latar belakang peserta untuk Kursus Bahasa Indonesia tahun ini. Kami berharap kesempatan ini akan meningkatkan kontak orang ke orang dalam kasus jika suatu hari nanti salah satu di antara Anda menjadi pejabat tinggi di Laos," kata Bambang.
    Peserta yang ikut ambil bagian dalam pelatihan meliputi 49 petugas dari Departemen Keamanan Publik, 30 tentara dari Departemen Pertahanan Nasional, tiga dari Federasi Veteran Nasional dan 29 pejabat dari Kementerian Pendidikan dan Olahraga, serta Departemen Luar Negeri dan warga Vientiane.
    "Ini adalah untuk pertama kalinya bagi saya  belajar bahasa Indonesia, saya sangat senang dan mengucapkan terima kasih kepada Kedutaan Besar Indonesia untuk memberikan saya kesempatan  belajar, meningkatkan pengetahuan dan kapasitas.
    "Ini adalah kesempatan yang baik karena sebagian besar orang Laos ingin belajar bahasa Inggris," kata Saykhamphet Keovongsack, salah satu peserta pelatihan, seorang tentara dari Departemen Pertahanan Nasional.

(Antara.news) 06-03-2012  |  20:27:47 

Sunday, 11 March 2012

Keberhasilan Pendidikan Dinilai Bukan Tolok Ukur Kecerdasan

     Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Hasan Alaydrus mengatakan keberhasilan pendidikan bukan tolok ukur kecerdasan otak dengan meraih prestasi di berbagai lomba akademik.
     "Kita merasa prihatin jika pendidikan itu hanya diukur dengan kecerdasan dan berhasil saat meraih perlombaan akademik," katanya di Rangkasbitung, Selasa.
     Menurut dia, pendidikan bukan hanya teruji kemampuan kecerdasan otak saja dengan meraih perlombaan bergengsi, seperti oliampiade sains matematika atau kimia tingkat nasional maupun internasional.
     Namun, kata dia, pendidikan harus dibangun keseimbangan tiga komponan, yakni kognitif (kecerdasan), afektif (sikap) dan psiomotorik (keterampilan).
     Ketiga komponan itu, kata dia, tentu saling terkait antara yang satu dengan yang lainya.
     "Kalau otaknya cerdas, tetapi mereka memiliki sikap bermalas-malas bagaimana orang-orang pintar itu ke depan," katanya.
     Ia mengatakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus membangun pendidikan dengan keseimbangan tiga komponan tersebut.
     Sebab, menurut dia, pendidikan adalah proses pembentukan karaktek manusia baik berpikir, sikap maupun keterampilan.
     "Kami yakin jika tiga komponan pendidikan dasar itu diterapkan maka akan melahirkan siswa-siswa yang cerdas, bermoral juga memiliki sikap yang baik," katanya.
     Kepala SMAN 2 Rangkasbitung H Ika Santika mengatakan selama ini target pencapaian keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan kecerdasan otak dan kelulusan ujian nasional.
     Padahal, kata dia, pendidikan itu harus memenuhi tiga komponan dasar yakni kognitif, afektif dan psiomotorik.
     Karena itu, kata dia, pihaknya mengembangkan ketiga komponan dasar pendidikan itu, selain pintar juga memiliki sikap dan ketrampilan anak didik.
     "Kami merasa bangga jika siswa bertemu dengan guru selalu cium tangan. Itu proses pendidikan afektif anak," katanya.
                                                                     (Antara.news) 06-03-2012  |  08:12:09

Mendiknas: Bangun Bangsa dengan Jujur

Jumat, 23 April 2010

Mataram, Sabtu (17 April 2010)--Karakter dasar seseorang adalah mulia. Namun, dalam proses perjalanannya mengalami modifikasi atau metamorfosa, sehingga karakter dasarnya dapat hilang.
"Hewan singa memiliki karakter dasar yang galak, tetapi karena mengalami proses modifikasi menjadi bagian dari pertunjukkan sirkus maka singa kehilangan kegalakannya. Kalau toh kita ingin memandang kehidupan dengan contoh hewan, ya seperti hutan apa adanya, tetapi dimenej dengan baik," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh saat membuka Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter di Hotel Grand Legi, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (17/4/2010) pada kunjungan kerjanya ke sejumlah sekolah dan institusi pendidikan di Mataram.
Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, untuk membangun bangsa maka harus berbasiskan pada fakta atau realitas. Mendiknas mengungkapkan, kehidupan saat ini banyak dihadapkan pada sesuatu yang paradoksal. Mendiknas mencontohkan, seorang guru yang harusnya mengajarkan kejujuran, namun kenyataannya mengajarkan ketidakjujuran
"Bukan sekedar mengajarkan ketidakjujuran, tetapi memaksa murid untuk tidak jujur," katanya dengan memberikan contoh pada saat pelaksanaan ujian.
Konsentrasi pendidikan karakter, kata Mendiknas, adalah membangun karakter mulai dari pendidikan dasar bahkan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Menurut Mendiknas, semakin tinggi jenjang pendidikan maka porsi untuk pembentukan karakter kesempatannya semakin kecil. "Di antara sekian banyak karakter itu intinya adalah jujur, sehingga kalau kita ingin membangun bangsa ke depan (bermodalkan) jujur," katanya.
Pada rangkaian kunjungan kerjanya ke NTB, Mendiknas meresmikan TK/SD Bertaraf Internasional Mataram. Dipandu Faras, siswa kelas 4, Mendiknas mengapresiasi kemampuan berbahasa Inggris para siswa di sekolah ini. Selain kemampuan berbahasa Inggris, Mendiknas juga kagum akan keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi pada siswa.
"Bagi anak-anak, saya kira satu kejiwaan yang luar biasa," katanya.
Selain dilengkapi dengan fasilitas komputer multimedia dan ruang UKS, sekolah ini sarat dengan kegiatan siswa seperti drum band, menari, dan kegiatan keagamaan belajar sholat. Mendiknas mengajak agar menjaga kekompakan dalam mengembangkan sekolah bertaraf internasional ini. Mendiknas juga meminta agar setiap kesuksesan yang didapat selalu dilandasi dengan azaz kekitaan. "Tolong dibangun bukan kesuksesan saya, tetapi kesuksesan kita," katanya.
\Kunjungan kerja Mendiknas dirangkai dengan peresmian Laboratorium ICT, Sentra Data Pendidikan Provinsi, dan Poliklinik pada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) NTB.
Mendiknas juga mengunjungi sentra industri kreatif batik SMK Negeri 5 Mataram.
Rangkaian kunjungan diakhiri dengan meninjau Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri. Para siswi di sekolah ini dibekali dengan kemampuan teknologi informasi yang memadai. Mendiknas menyaksikan para siswi yang sedang melakukan scanning (pemindaian) dokumen untuk membuat buku elektronik (ebook), merakit komputer, dan membuat blog di internet. Kepada para siswa, Mendiknas berpesan agar menjadi orang yang selalu memberikan kemanfaatan bagi orang lain dan menambah ilmu setiap hari.
"Jadikan sekolah ini sebagai kebun ilmu dan rumah pembentuk kemuliaan dan kepribadian, " katanya.

sumber: http://smpn3balaraja.blogspot.com

Guru Dituntut Dapat Berperan Multifungsi

Sabtu, 05 Desember 2009

Jakarta, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia telah mengajarkan... bahwa bangsa yang maju, modern, sejahtera, dan bermartabat adalah bangsa yang memiliki sistem dan praktek pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang unggul dan maju.
Hal tersebut disampaikan Presiden pada acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2009 dan HUT Ke-64 PGRI di Stadion Tenis Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Selasa, (01/12).
Presiden mengatakan, pendidikan yang bermutu akan sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu yaitu guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat. Memasuki abad 21 yang dikenal sebagai abad pengetahuan, tatanan pembangunan pendidikan tidaklah semakin ringan. Maka sosok guru di abad pengetahuan ini harus ditandai dengan keteguhan iman dan taqwa, tingginya semangat nasionalisme, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta wawasan yang jauh ke depan.
Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa paradigma pembangunan pendidikan telah memasuki ranah yang makin kompleks. Oleh karena itulah paradigma pendidikan di abad ke-21 menuntut perubahan peran guru. "Guru harus mampu menjadi insan pendidik yang makin profesional, kreatif, dan dinamis. Insan pendidik yang sanggup menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang inovatif. Insan pendidik yang sanggup menunaikan peran multifungsi sebagai fasilitator, motivator, komunikator, transformator, bahkan sebagai agen perubahan," katanya.
Sejalan dengan itu, Presiden mengatakan bahwa guru harus mampu melakukan reformasi metodologi pembelajaran yang berorientasi kepada murid dan bukan kepada guru. Dengan peran multifungsi itu para guru diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan teknologi sekaligus mampu membentuk sikap jiwa dan karakter murid-muridnya agar mampu bertahan di era kompetisi yang semakin ketat di abad ke-21 ini. "Guru yang mampu membawa perubahan peradaban bagi generasi yang sedang tumbuh mekar," ujarnya.
Dalam Sambutannya, Presiden berpesan, kepada Mendiknas, agar terus memberikan perhatian yang besar pada pembinaan dan peningkatan profesi para guru dan dosen.
 "Percepat upaya peningkatan kualifikasi guru melalui pengakuan atas pengalaman kerja dan hasil belajar bagi guru yang akan melanjutkan studi ke jenjang S1," katanya.
Demikian juga kepada para pimpinan dan segenap jajaran PGRI, Presiden meminta, untuk terus meningkatkan kualitas dan profesionalisme para guru. "Berikan dukungan pada upaya pemacuan profesi, peningkatan kompetensi, pembinaan karir, perluasan wawasan, perlindungan profesi, serta peningkatan kesejahteraan guru," katanya.
Serta, kepada para gubernur, bupati, dan walikota, Presiden meminta, agar melanjutkan semua upaya yang mendukung pengembangan profesi bagi para guru di wilayahnya. Menerapkan kebijakan peningkatan kualitas guru yang makin terstruktur dan makin sistematis. Kemudian, memberikan bantuan dan memperluas peluang bagi para guru dalam mengikuti program sertifikasi agar mereka dapat terus meningkatkan kualifikasinya. "Lakukan kerjasama dengan semua pihak terkait. Kaji dan telaah dengan seksama pola pendistribusian guru di wilayah saudara masing-masing, dan salurkan sumbatan atas berbagai hambatan birokrasi dalam proses sertifikasi para guru," katanya.

Pada Kesempatan ini pula, Presiden memberikan penganugerahan tanda kehormatan Republik Indonesia berupa Satya Lencana Pembangunan dibidang Pendidikan kepada dua Gubernur dan lima Bupati Walikota yang mempunyai komitmen tinggi dalam meningkatkan mutu guru dan tenaga kependidikan. Selain itu, satya lencana pendidikan juga diberikan kepada enam Guru, dua Kepala Sekolah, dua Pengawas Sekolah, dan satu Pamong Belajar serta satu Penilik yang berprestasi dan berdedikasi luar biasa dalam melaksanakan tugas profesionalnya. (AND) -Sidiknas-

Saturday, 10 March 2012

Membangun Kearifan Peserta Didik

Diibaratkan melestarikan lingkungan hidup. Ada pihak yang bekerja keras menanam, sementara pihak lainnya bekerja keras mencabutinya. Demikianlah halnya dengan pembentukan kearifan pada peserta didik (siswa). Di ruang kelas para guru berusaha menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia, sementara di luar ruang kelas banyak hal yang menggerogoti nilai moral dan akhlak mulia tersebut.
Di rumah mereka disuguhi tayangan televisi yang mengabaikan kaidah-kaidah moral. Di lingkungan sosial mereka dihadapkan pada fenomena tata pergaulan yang menyimpang (seperti pergaulan bebas dan seks pranikah). 
Di sekolah para pelajar dijejali dengan sekian banyak mata pelajaran dan bertumpuk pekerjaan rumah yang tidak berhubungan dengan realitas yang bisa membuat pelajar menjadi arif dan bijak dalam menyikapi kehidupan. Padahal kalau mau dibedah secara dalam, para pelajar berada di lingkungan sekolah hanya berkisar 7 jam sedangkan 17 jam selebihnya berada di lingkungan luar sekolah (rumah dan ruang publik).
Saat berada di ruang belajar (sekolah) yang 7 jam itulah para pelajar berhadapan dengan materi pelajaran dan para pendidik (guru), Tapi manakala telah keluar dari sekolah sebagian waktu mereka habiskan di ruang publik. Ada sebagian, sepulang sekolah, memang segera menuju rumah, dan sebagian lainnya mampir ke mal atau swalayan terlebih dahulu, ada juga ke gedung bioskop, hanya sedikit yang berada di tempat-tempat kursus (bimbingan belajar). Sesampai di rumah aktivitas dilanjutkan dengan  menonton televisi, atau tenggelam dalam asyiknya online menjelajah dunia maya lewat jejaring pertemanan facebook atau twitter. Bisa dikatakan hanya sedikit anak-anak yang sukarela membantu pekerjaan rumahtangga, karena umumnya sudah diambil alih pembantu.
Kalau sudah berhadapan dengan televisi, maka para siswa dihadapkan pada budaya pop yang diproduksi kaum kapitalis. Budaya pop yang menjual citra kenikmatan dan kesenangan konsumen. Para siswa yang berjiwa remaja dicitrakan dengan keriangan dan kesenangan, oleh karena itu mereka seyogianya tampil dengan sosok yang riang, ceria, trendi dan funky. Masa remaja adalah masa bersenang-senang. Berpikir serius tentang masa depan dan dunia kerja adalah masalah nanti kalau sudah dewasa.
Citra yang ditabur oleh budaya pop tayangan televisi ini membangunkan singgasana bagi identitas diri di kalangan remaja. Tak sedikit dari mereka merasa seolah-olah bagian individu yang terlibat dalam setiap tayangan sinetron dan iklan. Setiap cerita dalam sinetron diciptakan sedemikian rupa. Begitu romantis, begitu tragis, begitu mengharu biru, sehingga akan menciptakan suasana hati para penontonnya seolah-olah apa yang melingkup hidup kesehariannya terwakili dan terpapar pada alur kisah dalam setiap sinetron.
Tayangan televisi sarat dengan peristiwa yang menggerogoti moral dan mental bangsa (generasi muda, orang dewasa, dan kaum tua), seperti kriminalitas, pornografi, dan pelanggaran hukum berupa kekerasan dan penyalahgunaan obat-obat terlarang dan zat adiktif lainnya (narkoba), serta segala bentuk manipulatif lainnya di kalangan remaja dan orang dewasa.
Sementara di kalangan orangtua, yang berkiprah pada posisi yang mapan dengan jabatan hebat, sebagian terjerembab pada perilaku yang tidak meneladani, bahkan sungguh memuakkan. Belakangan, heboh di televisi tersiarnya rekaman pembicaraan Anggodo Widjojo dengan para petinggi Kepolisian RI dan Kejaksaan Agung. Para pejabat yang menjual harga dirinya begitu murah, mau dibayar oleh para cukong dan makelar hukum.
Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa runtuhnya kejayaan suatu bangsa bukanlah dikarenakan kelemahan militer dan kemerosotan ekonomi, tapi karena runtuhnya akhlak dan moral bangsa tersebut.
Kalaupun tidak teronggok di depan televisi, mereka tenggelam dalam keheningan menimati debaran irama jantungnya yang diayun jalinan cerita dalam nove-novel pop penuh khayalan dan angan-angan hampa yang dibacanya. Atau membuka laptop lalu asyik ma’suk menjelajah situs-situs porno.
Ada angin segar yang diembuskan oleh penulis-penulis muda seperti Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya atau Habiburrahman El-Sirazi dengan Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta, juga yang terbaru Ustadz Yusuf Mansyur dengan Kun Fayakun. Betapa memoriam yang disuguhkan dengan balutan sastra menjadikan Laskar Pelangi membuat banyak orang terpompa semangat hidupnya. Berbagai kearifan disuguhkan bagai air yang menyejukkan dahaga, bagai cambuk yang melecut semangat untuk tetap berjuang. Dan sisa-sisa asa untuk tetap berikhtiar di tengah ketidakberdayaan, namun ketakwaan menjadi pemacu semangat hidup, akhirnya membuahkan keberhasilan. Kesemua pelajaran moral ini dapat disimak dalam novel-novel tersebut.
Kemudian pompaan semangat yang ditempakan Ibu Muslimah dan Pak Harfan, melecut energi kesepuluh laskar pelangi, dapat disimak secara detil lewat film yang berjudul sama yang telah diputar di berbagai bioskop di tanah air. Konon film ini membuat sebagian penontonnya menitikkan air mata, manakala menyaksikan perjuangan anak-anak Gantong dalam memperoleh ilmu pengetahuan di tengah segala keterbatasan. Tapi, pelajaran yang patut dipetik dari film ini adalah semangat yang tinggi untuk belajar secara sungguh-sungguh. Dan, semangat inilah yang kini mulai pudar di kalangan peserta didik kita. Penyebabnya banyak faktor. Di antaranya, kurangnya sosok yang patut untuk mereka bisa jadikan pemacu semangat itu sendiri, banyak guru yang patut dipertanyakan kompetensinya dan bahkan cenderung malas mengajar, mulai tidak bisa dijadikan sosok yang layak untuk digugu dan ditiru. Kemudian dipicu pula oleh gerusan budaya pop yang disajikan di layar-layar televisi.  
Menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia dalam era kebebasan dan keterbukaan global bukanlah pekerjaan mudah. Diumpamakan menebar benih di tanah kering tandus dan saat musim kemarau pula. Tapi, kalau tidak ada yang mau melakukannya, kelak saat musim hujan tiba lantas apa yang akan tumbuh kalau bukan alang-alang dan rerumputan liar. Karena itu perlu diberikan dorongan dan dipompa semangatnya agar para pendidik tak patah arang dan terus menerus menanamkan moral dan akhlak mulia pada anak didiknya. Walaupun benih disemai saat kemarau, kelak bila musim hujan tiba akan timbul tunas-tunas. Jadi, intinya menebar nilai moral dan akhlak mulia ini janganlah dijadikan pekerjaan yang bisa ditunda, melainkan dijadikan pekerjaan yang terus bersinambungan meski hasil yang didapat sangat minim. 
Bila mengamati tas punggung yang disandang para siswa, terlihat penuh sesak dan menyiratkan ekspresi mereka yang menahankan rasa berat memanggulnya. Buku-buku yang memenuhi tas punggung mereka diasumsikan mengandung standar isi nilai moral dan akhlak mulia dalam berbagai bidang studi. Misalnya pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya. Tapi apakah sudah cukup? Tentu saja belum. Oleh karena itu diperlukan pengajaran nilai moral dan akhlak mulia secara universal.
Sebelum memasuki dunia pendidikan formal, di rumah, ibu adalah sekolah pertama bagi para siswa. Tentu saja sudah banyak hal yang diajarkan oleh orangtua pada anak-anaknya. Tapi bukan mustahil nilai moral dan akhlak mulia yang ditanamkan oleh orangtua di rumah, belumlah memadai untuk bisa mengatakan para siswa bermoral, sangat relatif dan tergantung pada kondisi moral dan akhlak orangtua masing-masing. Maka, tugas gurulah untuk mengasahnya agar pengajaran nilai moral dan akhlak mulia yang telah disepuh oleh orangtua lebih tajam lagi.
Tentu saja perbuatan menanam benih nilai moral dan akhlak mulia ini, hanya akan terjadi dan berhasil bila si pendidik (guru) sudah lolos uji perihal kebagusan moral dan kemuliaan akhlaknya. Bila guru masih bisa dikatakan belum lolos uji dan integritasnya patut dipertanyakan, kemudian kompetensinya kopong, maka tidak bakal bisa memberikan pengajaran nilai moral dan akhlak mulia.
Mana ada guru yang berani menipu hati nuraninya. Sok suci, sok bersih, mengharapkan anak didiknya agar memiliki nilai moral dan akhlak mulia. Sementara dirinya sendiri tidak bermoral bahkan bisa jadi malah bejad. Dalam hal ini diperlukan sosok guru yang memiliki standar kecerdasan intelektual (IQ) yang baik, Tidak harus jenius, tetapi mestinya di atas atau minimal sama dengan rata-rata. Faktor ini sepatutnya diperhatikan dalam seleksi calon mahasiswa keguruan, karena IQ merupakan bawaan sejak lahir yang tidak bisa lagi berubah signifikan sepanjang hidup.
Selain IQ, kecerdasan emosi (EQ) adalah faktor yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam profesinya, terutama yang banyak berhubungan dengan orang lain, terlebih-lebih guru. Perannya bahkan lebih penting dari IQ. Karena EQ bisa dilatih, pembinaan EQ semestinya mendapat porsi selayaknya dalam pendidikan calon guru.
Berapa banyak kasus kekerasan terjadi di sekolah yang dilakukan oleh para pendidik, yang semestinya memberikan teladan dan pengayoman. Begitu juga kekerasan antarsesama siswa dan tindak asusila lainnya. Tiap kali dilakukan razia pada handphone mereka tersimpan adegan video porno (film biru) yang begitu mudahnya diunduh di internet, lalu disebarkan dengan fasilitas bluetooth.
Faktor lain yang turut menentukan keberhasilan menjadi guru adalah bakat. Ini memang merupakan kombinasi dari banyak hal. Seorang psikolog tentu bisa membedakan mana orang yang berbakat untuk menjadi guru dan mana yang tidak. Karena bakat adalah bawaan sebagaimana IQ dan faktor ini mestinya diperhatikan dalam seleksi calon mahasiswa keguruan.
Kita tidak menutup mata kalau di beberapa daerah di negeri ini masih banyak guru yang tertinggal dengan kemajuan teknologi seperti sekarang. Jangankan di pelosok, di perkotaanpun banyak guru yang gagap teknologi dan cenderung puas dengan pola belajar-mengajar yang konvensional. Hanya duduk di depan kelas sembari mendiktekan pelajaran.
Adanya program pemerintah untuk melakukan sertifikasi guru adalah salah satu upaya untuk mengangkat citra dan profesionalitas guru. Guru yang mengikuti sertifikasi diharapkan memperoleh ilmu dan wawasan yang lebih untuk dapat menempatkan dirinya pada level profesional. Kemudian guru yang telah mengantungi sertifikat dan menerima tunjangan profesi, seyogianya dituntut untuk dapat menunjukkan kualitasnya. Konsekuensi logis dari apa yang diterimanya, tentu saja kinerjanya akan selalu dipantau oleh LPMP. Ini untuk memastikan apakah mereka telah melaksanakan tugas dengan baik dan profesional atau tidak.
Bentuk pengajaran profesional ini sangat relatif dan multitafsir, tapi setidaknya guru mengajar dengan cara memberi pencerahan dan kearifan kepada peserta didik. Dan pola yang tepat menurut penulis, melalui pendekatan perhatian individual. Yaitu menyelami, mempelajari, dan kemudian memahami kepribadian anak didiknya orang perorang. Melalui cara inilah bisa ditemukan jalan tengah pola ajar dan pola didik yang tidak saja membebaskan guru dari beban berat pembelajaran yang akan mendatangkan stres dan rasa jenuh. Tapi, yang lebih penting akan membuat anak didik menjadi enjoy, nyaman, dan betah di dalam kelas. Serta yang lebih penting telah tertanam dalam benak siswa bahwa guru mana yang paling mereka sukai bila mengajar dan mendidik.
Secara luas telah tertanam adanya pandangan masyarakat terhadap guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Hal ini menunjukkan betapa mulianya profesi guru. Karena itu, sebagian guru gelisah menjaga stigma tersebut dengan berjuang menjaga dan menjunjung tinggi nilai moral dan akhlak mulia, demi tegaknya martabat dan integritas. Tapi, ada sebagian guru dengan santainya melakukan pengingkaran.
Selamat Hari Guru!!!


TERPUBLIKASI pada Surat Kabar LAMPUNG EKSPRES, Rabu, 25 November 2009