Sunday, 24 November 2013

Begini Resep Agar Pelajar Tidak Brutal

Supaya remaja tidak brutal, sejak kecil anak jangan ditinggal-tinggal oleh orangtuanya dengan alasan bekerja. Sehingga anak tersebut kurang pengawasan dan perhatian dari orangtuanya sendiri.

Dosen Ilmu Pendidikan Lingkungan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) Stien Johanna Matakupan, M.Pd berpendapat, dalam keluarga sebenarnya pada usia lima tahun pertama masa pertumbuhan anak-anak sedang dalam masa golden periode. Dalam hal ini orangtua yang berperan besar, misalnya orangtua lebih banyak bekerja dan menyerahkan pendampingan anak kepada pembantu, maka anak akan cenderung bersifat brutal.

“Lalu di lingkungan masyarakat juga bagaimana supaya anak-anak itu bisa berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat agar tidak berkecenderungan dengan hal-hal yang menyimpang,” ujarnya, Kamis (21/11/2013).

Oleh karena itu, pendidikan karakter bagus dibicarakan di kelas (sekolah), namun akan lebih bagus bila dia terjun di masyarakat dan dibenturkan dengan kondisi yang ada. Misalnya ada sekolah-sekolah yang bagus sudah mulai memberikan program anak yang bekerjasama dengan masyarakat atau anak tinggal dengan masyarakat, dia akan mengalami benturan-benturan budaya. Di lain pihak dia akan belajar pada nilai-nilai yang berbeda.

“Kemudian pendidikan karakter juga lebih banyak kepada diskusi dengan orang dari berbagai golongan. Jadi dia paham, harus menghormati dari segala perbedaan, Indonesia beruntung sebenarnya dengan berbagai macam budaya untuk pendidikan karakter, cuma apakah ada kesempatan atau tidak untuk anak-anak untuk mengeksplorasi, terus juga kegiatan di lapangan misalnya pendidikan karakter untuk tekun, berarti dia harus berkegiatan seperti mengolah sampah atau kegiatan yang tangannya jadi kotor, harus menceburkan ke lumpur, harus mengalami yang tidak enak, itu juga sangat kurang dididik, kita hanya banyak fokus kepada pengetahuan seperti menyelesaikan soal, menjawab ulangan, nilai bagus,” ucapnya.

Lebih lanjut, Guru harus memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan hal seperti itu, walaupun muridnya marah dan menangis tidak apa-apa, namun itu proses belajar yang tidak harus melulu senang, tapi juga ada saatnya di mana dia harus merasakan hal-hal yang dia tidak suka.

“Ada juga orangtua yang tidak mengizinkan anaknya melakukan kegiatan yang sulit atau kesusahan, padahal itu adalah pendidikan karakter. Jadi, pendidikan karakter itu membutuhkan juga guru dan orangtua yang harus sedikit tega, contoh lain misalnya memukul juga tidak apa-apa tapi anak harus tahu kenapa dia dipukul, selama ini kan tidak, hanya ada timbul rasa benci anak terhadap orangtua, menjadi pelarian dan akhirnya pergi dari rumah,” ungkapnya. [Okz]

Monday, 18 November 2013

Hei Mahasiswa, Jangan Takut Masa Depan

Pemerintah terus berupaya membangun bangsa yang berkarakter melalui pendidikan. Sebagai konsekuensi atas pembangunan bangsa berkarakter, maka bangsa Indonesia juga harus memiliki sifat mandiri.mandiri.

Demikian disampaikan Pakar Pendidikan Indonesia Darmaningtyas dalam kuliah umum bertema “Pemuda sebagai Inisiator Penggerak Indonesia Emas 2045” di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (Unnes), belum lama ini.

"Kemandirian bukan hanya soal fisik, tetapi soal mental. Ciri dari bangsa yang mandiri antara lain teguh kepada pendirian sendiri dan tidak mudah tergantung dengan bangsa lain," papar Darmaningtyas, seperti dilansir Okezone, Selasa (12/11/2013).

Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. Menurut Darmaningtyas, di Indonesia terdapat fenomena semakin tinggi pendidikan, semakin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya. "Maka perlu adanya suatu usaha untuk mengubah mindset tentang kehidupan," jelasnya.

Sebagai penutup, Darmaningtyas mengutip kalimat dari Moh Hatta sebagai pesan kepada para mahasiswa yang hadir. “Hanya suatu bangsa yang telah menyingkirkan perasaan tergantung saja yang tidak takut akan hari depan. Hanya suatu bangsa yang paham akan harga dirinya maka cakrawalanya akan terang benderang,” tutup Darmaningtyas.

Okezone.Com

IPK Tinggi tak Cukup untuk Sukses

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan lagi satu-satunya ukuran yang menjamin kesuksesan seseorang di dunia kerja. Nilai akademis yang baik akan menjadi paket lengkap meraih kesuksesan jika ditambah dengan kerja keras yang dilakukan sepenuh hati.

Pendapat tersebut disampaikan Ketua Ombudsman Danang Girindrawardana di hadapan para calon wisudawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jebolan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM itu mengingatkan, IPK tinggi tidak menjamin seseorang meraih keberhasilan.

IPK tinggi, lanjutnya, hanya menjadi salah satu kunci pintu masuk kesuksesan. Apapun pilihan Anda, jika tanpa memaksimumkan diri tentu tidak akan berhasil. Karena keberhasilan lebih ditentukan tindakan sesorang dengan sepenuh hati dan sepenuh aksi, kata Danang, seperti dinukil dari laman UGM, Minggu (17/11/2013).

Sementara itu, pembicara lainnya, yakni Pimpinan Yayasan Ani-ani Jewellery Budi Utomo mengungkap, keberhasilan bisa dilihat ketika sebuah profesi bisa menghidupi diri sendiri sekaligus menghidupi orang lain. Sementara pengalaman panjang, tambahnya, bisa mengantar seseorang pada pemahaman apa yang sebenarnya diinginkan selama ini.

Pada kesempatan itu, Pengelola Desa Wisata Brayut, Pendowoharjo, Sleman tersebut juga berbagi pengalaman dalam menjalankan sebuah bisnis. Menurut Budi, perencanaan dan riset-riset pasar penting dilakukan bagi calon pebisnis muda. Karena pasar pun terkadang tidak tahu apa yang dibutuhkan.

Oleh karena itu, kata Budi, para pebisnis muda harus jeli dalam melihat kesempatan dan tidak mudah putus asa. Inilah yang membutuhkan kejelian kita dan ditolak diawal-awal itu sudah biasa, tutur Budi.

Budi bercerita, pengenalan terhadap dunia kerajinan dan UMKM didapat saat bekerja pada perusahaan handycraft milik pengusaha Belanda di Bali. Merasa bosan dengan aturan-aturan, sistem, jadwal ketat dan lain-lain, Budi pun memutuskan mandiri dan membuka usaha sendiri.

Karenanya proses kreatif dimulai. Dunia pernak pernik cukup menantang dan saya teringat sejak kecil terbiasa bikin pensil sendiri, menghias kamar, dan lain-lain. Itu semua dimulai pada 2006 sejak saya kembali ke Yogyakarta, tutupnya.


ANTARA.News.Com

Wednesday, 9 October 2013

Cara Intelek Kampus Lawan Korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kian garang memberantas korupsi di Tanah Air. KPK konsisten menyelidiki, menangkap dan mengadili koruptor yang berada hingga di lembaga-lembaga tinggi negara. Terakhir, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar pun tidak luput dari borgol KPK.
Tetapi, KPK tidak bisa sendirian memberantas korupsi yang sudah mengakar kuat di Indonesia. Upaya hukum yang dilakukan KPK ini perlu dibarengi dengan upaya pendampingan dari pihak lain, termasuk perguruan tinggi. Caranya adalah melalui pendidikan anti-korupsi (PAK).
Mahasiswa yang merupakan agen perubahan sosial diharapkan dapat fokus membangun budaya antikorupsi di masyarakat. PAK pun menjadi penting sebagai bekal pengetahuan mahasiswa tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya. Tidak hanya itu, mahasiswa juga harus dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai antikorupsi dalam kehidupan sehari-hari. Demikian seperti dikutip dari materi presentasi Ditjen Dikti Kemendikbud tentang Pendidikan Anti Korupsi, Rabu (9/10).
PAK sendiri bisa berupa sosialisasi, kampanye, seminar, diskusi hingga mata kuliah wajib atau pilihan yang diselenggarakan di perguruan tinggi. Beberapa kampus mengajarkan materi antikorupsi, seperti dalam mata kuliah Sosiologi Korupsi. Kampus lainnya juga gencar memberikan PAK melalui sosialisasi, kampanye atau seminar.
Sejak 2006, KPK telah melakukan kerjasama dalam hal PAK dengan berbagai perguruan tinggi seperti Unika Soegijapranata dan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Universitas Paramadina menjadikan PAK sebagai mata kuliah wajib sejak 2008, bobotnya dua SKS. Sementara itu di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Nasional (Unas), PAK dengan beban dua SKS menjadi mata kuliah pilihan.
Kampus lainnya tidak mau ketinggalan, mereka menyisipkan materi PAK ke dalam mata kuliah tertentu. Misalnya, Universitas Padjadjaran (Unpad) menyisipkan materi PAK ke dalam mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). Kedelapan MPK itu adalah Pendidikan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Agama, Pancasila, Ilmu Budaya Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Alamiah Dasar. Selain memperkaya pengetahuan mahasiswa tentang korupsi, Unpad juga memfokuskan PAK kepada aspek afeksi dan psikomotorik.
Sama dengan Unpad, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta juga menyisipkan PAK ke tujuh mata kuliah umum. Pihak kampus tidak ingin menambah beban mahasiswa dengan menjadikan PAK mata kuliah tersendiri. Ketujuh mata kuliah yang disisipi PAK adalah Pendidikan Kewarganegaraan, Pancasila, Agama, Bahasa IndonesiaIlmu Kealaman Dasar, Ilmu Sosial Budaya Dasar dan Kewirausahaan.
Agar visi dan misi PAK tercapai, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun membuat acuan buku ajar untuk PAK. Sesuai buku ini, mahasiswa akan mempelajari delapan topik utama yaitu pengertian korupsi; faktor penyebab korupsi; dampak masif korupsi; nilai dan prinsip antikorupsi; upaya pemberantasan korupsi di Indonesia; gerakan, kerjasama dan instrumen internasional pencegahan korupsi; tindak pidana korupsi dalam peraturan perundang-undangan; dan peran mahasiswa dalam gerakan antikorupsi.
Perkuliahan PAK dilaksanakan selama satu semester sebanyak 14-16 kali pertemuan tatap muka. Kedelapan topik tadi diberikan dalam delapan kali pertemuan. Sementara itu, delapan pertemuan lainnya bisa diisi dengan kuliah umum dari para tokoh pemberantasan korupsi, studi kasus, pemutaran film dan analisisnya, tugas investigasi, tugas observasi, tugas pembuatan makalah, tugas pembuatan prototipe teknologi yang terkait dengan pemberantasan korupsi, dan tugas-tugas lain yang disesuaikan dengan karakteristik program studi pada perguruan tinggi masing-masing.
Selain PAK secara struktural dari kampus, banyak juga kegiatan mahasiswa yang mengedepankan nilai-nilai antikorupsi. Misalnya, kampanye ujian bersih. Caranya berupa pembuatan media prograganda berupa baliho, spanduk dan poster atau melalui media online. Organisasi kemahasiswaan juga menanamkan kampanye ujian bersih dan nilai kejujuran ini pada proses kaderisasi.
Bahkan, mahasiswa di beberapa kampus membentuk komunitas antikorupsi. Di Universitas Brawijaya (UB) Malang ada Komunitas Trapesium dan di Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar ada Komunitas Garda Tipikor.
ANTARA.Com

Kapan Bahasa Indonesia Lahir

Sejak kecil, kita belajar bahasa Indonesia. Dimulai dengan pengenalan alfabet, hingga membuat kalimat sederhana seperti, Ini ibu Budi. Tapi pernahkah kamu mencari tahu tentang sejarah bahasa Indonesia? Mengapa kita menggunakan bahasa yang berakar dari bahasa Melayu ini dan bukan memilih satu dari ratusan bahasa daerah di Tanah Air.
Salah satu kegiatan dalam Bulan Bahasa Tahun 2012 adalah pemilihan Duta Bahasa Nasional.
(Foto: dokumen Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)
Penggunaan bahasa Melayu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah dimulai sejak abad ke-7.  Sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) dan perdagangan bahasa Melayu pun tumbuh dan berkembang. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu juga dipakai di buku pelajaran agama Budha dan berfungsi sebagai bahasa kebudayaan.
Kemudian, bahasa Melayu kian tumbuh dan berkembang seiring penyebaran agama Islam di Nusantara. Bahasa Melayu juga dipakai di berbagai literatur sastra abad ke-16 dan 17 seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.
Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur, demikian disitat dari laman Badan Bahasa, Rabu (9/10/2013).
I Gede Wahyu Adi Raditya (kiri) dan pasangannya Kadek Ridoi Rahayu terpilih sebagai Duta Bahasa tingkat Nasional pada acara Puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2012 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta, Selasa (30/10/2012) | KOMPAS.com/Ali Sobri
Dalam perkembangannya, Bahasa Melayu dipengaruhi corak budaya daerah dan menyerap kosakata dari berbagai bahasa seperti Sanskerta, Persia, Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Kini, kita juga mengenal bahasa Melayu dengan berbagai variasi dan dialek.
Nah, perjalanan panjang bahasa Melayu sebagai lingua franca membuktikan, bahasa ini bisa mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk. Bahasa Melayu kemudian dikukuhkan menjadi bahasa Indonesia dan sebagai bahasa pemersatu bangsa pada 28 Oktober 1928.
Yup, kelahiran bahasa Indonesia memang pada momen Kongres Pemuda Indonesia II. Ketika itu, para pemuda Indonesia dari pelosok Nusantara berkumpul dan berikrar bahwa mereka, (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tiga ikrar ini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda.
Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional, demikian dilansir Badan Bahasa.
Secara yuridis, pernyataan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).
Hingga kini, perkembangan bahasa Indonesia terus berjalan, termasuk melahirkan varian baru dalam bahasa Indonesia: bahasa gaul. Ini semua tidak lepas dari peranan kegiatan politik, perdagangan, dan media massa dalam memodernkan bahasa Indonesia.
ANTARA.Com

Wednesday, 21 August 2013

Demi Pendidikan Rela Jadi Penarik Becak

Kuliah di perguruan tinggi negeri menjadi gengsi tersendiri bagi sebagian orang. Selain proses seleksi yang tak mudah, nilai prestige menjadi pertimbangan untuk bisa kuliah.
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) Deden Iskandar salah satunya. Kepada Okezone, ia menceritakan rasa bangga dan jerih payahnya ketika bersekolah hingga bisa masuk ke universitas asal Sumatera Utara itu.
Deden adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ayah Deden berprofesi sebagai penarik becak motor (bentor). Kakak Deden mengalami putus sekolah. Ia tidak tamat SMA. Aku ingin terus sekolah, aku tidak ingin seperti abangku, kata Deden singkat.
Sejak kelas 2 SMP, Deden sudah bekerja. Ia mencuci motor untuk mendapatkan uang. Ketika SMA, ayahnya membelikan motor kepada Deden dikarenakan jarak rumah ke sekolah yang jauh.
Ketika SMA aku dibelikan motor. Lalu aku inisiatif membuat bak gandeng untuk dijadikan bentor. Setiap pulang sekolah aku narik bentor, lalu setelah itu aku les, tutur alumnus SMA Negeri 1 Kota Pinang ini.
Uang yang diperoleh Deden pun digunakan untuk les tambahan dan sebagian ia sisihkan untuk kuliah nanti. Orangtua Deden kerap melarangnya untuk bekerja. Deden diminta untuk fokus sekolah saja. Namun Deden merasa kasihan, ia ingin meringankan beban orangtuanya mengingat masih ada dua orang adik.
Capai sih, sekolah sambil narik bentor. Habis aku kasihan lihat bapak kerja sendiri. Tapi justru dari bekerja itu, aku malah mendapat motivasi lebih, ungkap pemuda yang kerap jadi juara cerdas cermat saat sekolah ini.
Setelah lulus sekolah, Deden berhasil masuk ke USU. Ia membayar biaya kuliah dari uang yang terkumpul selama ia bekerja saat sekolah dulu. Terkumpul Rp7 juta, tapi itu tidak cukup untuk membayar seluruh biaya kuliah, jadi masih harus utang ke saudara, kata mahasiswa akuntansi ini.
Kini, Deden tidak pusing memikirkan biaya kuliah, ia berhasil memperoleh beasiswa dari Tanoto Foundation. Berkat kerja kerasnya, usaha yang Deden lakukan pun membuahkan hasil.
Okezone

Alhamdulillah, Berkat Beasiswa Nggak Jadi PRT

Ketika sudah bertekad, segala cara akan ditempuh untuk meraih apa yang diinginkan. Hal ini tercermin dari Stya Nur Istiqomah. Gadis kelahiran Lampung Utara, 19 tahun silam ini rela bekerja apa saja untuk bisa kuliah, termasuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT).
Stya Nur Istikomah
Stya menceritakan, ia pernah merasakan menjadi PRT selama tiga bulan. Dia pun menuturkannya kepada Okezone.
Waktu itu aku enggak punya uang untuk beli formulir SNMPTN, aku juga enggak mau merepotkan bapak. Kebetulan waktu itu salah satu staf di tempat bapak bekerja sedang mencari pembantu rumah tangga. Jadi ya aku tawarkan diri saja. Satu bulan dibayar Rp600 ribu, kisah alumnus SMA 1 Negeri Merlung, Jambi ini bersemangat.
Stya menceritakan, untuk pergi ke sekolah ia harus menempuh jarak delapan kilometer (km) dengan menumpang truk besar. Ditambah kondisi jalan yang tidak bagus, yang kerap berlumpur apabila turun hujan.
Kalau hujan turun pasti sepatu kotor dan pakaian basah kuyup. Aku sering diejek teman-teman sekolah, pun sering dimarahin guru karena sering datang terlambat. Padahal aku terlambat itu kan bukan keinginan aku, tetapi karena faktor alam, tambah gadis yang kini berkuliah di Universitas Jambi.
Satya sempat kecewa karena tidak lolos SNMPTN, namun ia tidak menyerah begitu saja untuk bisa kuliah. Ia mengambil jalur PMDK yang disediakan oleh pihak sekolah dan akhirnya diterima di Universitas Jambi. Tidak sampai di situ, Satya pun memikirkan bagaimana caranya untuk membayar uang kuliah nanti.
Aku sempat berpikir untuk bekerja lagi sebagai pembantu atau kerja hal lain supaya bisa membiayai kuliah. Untung waktu itu aku menemukan informasi mengenai beasiswa. Aku daftar, ikut seleksi, dan diterima. Untung lah aku jadi bisa kuliah secara gratis, papar mahasiswa jurusan Agroekoteknologi.
Dia mendapat beasiswa dari sebuah yayasan berbasis industri rokok. Jasa perusahaan itu sangat besar dalam hidup aku. Kelak apabila lulus nanti aku akan mengabdi di perusahaan itu, imbuh dia. Perusahaan yang dimaksud adalah Tanoto Foundation.
Orangtua pun menjadi sosok yang sangat berperan dan selalu menyemangati Stya. Ibu pernah berpesan, 'hidupmu itu pilihanmu, pertanggungjawabkan pilihanmu itu', tutup Stya. (OKZ)


Cari Duit untuk Beli Formulir SNMPTN
Bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri masih menjadi mimpi banyak orang di Indonesia. Salah satunya Tya Nur Istiqomah (20), siswi SMAN 1 Merlung, Jambi.
Untuk mendapat secarik formulir Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), gadis yang sering disapa Tya itu harus rela menjadi pembantu rumah tangga.
Tya rupanya sudah terbiasa bersusah payah untuk mendapatkan pendidikan. Sejak SMP sampai SMA, dia harus menumpang truk untuk bisa bersekolah yang jauhnya hingga 8 kilometer.
"Dulu SMP SMA harus bisa semua naik ke atas truk jam 6 pagi. Nanti kalau di tengah jalan kehujanan kita harus plastikin sepatu kita. Sudah sampai sekolah pasti banyak yang ejek karena kita kebasahan," cerita Tya di gathering Tanoto Foundation di desa Batu Layang, Cisarua, Senin (19/8).
Tya tidak bisa protes atau meminta fasilitas sekolah dengan mudah kepada orangtuanya. Sebab bapak-ibunya hanya bekerja sebagai petani kelapa sawit. Situasi semakin pelik ketika ayah Tya berhenti bekerja. Tya yang kebingungan kemudian memantapkan hati untuk tetap maju ke perguruan tinggi.
"Bapak paham saya bilang mau kuliah. Saya harus bisa masuk. Saya lalu jadi pembantu rumah tangga buat beli formulir," kata Tya.
Selama tiga bulan, Tya bekerja menjadi pembantu di rumah asisten perusahaan bekas ayahnya bekerja. Dengan gaji Rp 600 ribu per bulan, dia berhasil membeli formulir SNMPTN. Sayangnya, saat ujian dia tidak lolos.
Tidak patah arang, Tya kemudian mencoba lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) Universitas Jambi jurusan Agroteknologi. Lewat seleksi ini, Tya akhirnya berhasil lulus menjadi mahasiswa di sana.
Menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, tak membuat Tya lepas dari persoalan uang kuliah.
"Saya ambil beasiswa Tanoto Foundation untuk jalur regional. Di Provinsi Jambi cuma empat orang yang terpilih dari 100 pendaftar. Salah satunya saya," kata Tya bangga.
Tya amat bersyukur atas beasiswa yang diberikan Tanoto Foundation kepadanya. Dia berhasil membuktikan pada semua, termasuk orangtuanya bahwa dia berhasil masuk universitas dengan kesungguhan yang dia punya. Tya pun merapalkan pesan disampaikan ibunya.
"Apa yang kamu pilih adalah tanggung jawabmu," tutupnya dengan perasaan haru.
[ren/merdeka.com]