Thursday, 10 April 2014

Life Skills : Teman Setia Generasi Berencana


Oleh : Yuniarini, S.Psi

Remaja dan permasalahannya menjadi  isu yang sangat penting saat ini. Kenakalan dan tindakan asusila begitu sering ditemukan. Kasus-kasus seperti tawuran pelajar sampai dengan married by accident akibat kehamilan yang tidak diinginkan seolah menjadi isu yang tiada akhir. Hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 menunjukkan jumlah remaja mencapai angka 64 juta  atau 27,6% dari jumlah penduduk Indonesia. Besarnya angka tersebut tentunya memerlukan  perhatian dan pembinaan yang tepat untuk membentuk remaja berkarakter dan bersikap tegar. Yang dimaksud dengan remaja tegar di sini adalah remaja sebagai generasi yang berencana yaitu remaja yang menunda usia pernikahan; berperilaku sehat; terhindar dari risiko Seksualitas, HIV dan AIDS, Napza; bercita-cita mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera; serta menjadi contoh, model,  idola,  dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

Pemerintah melalui program Generasi Berencana yang di laksanakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan pendekatan dan pembinaan kepada masyarakat melalui 2 wadah yaitu Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Pusat Informasi dan Konseling bagi Remaja/Mahasiswa (PIK R/M). BKR menilik keluarga remaja seperti ayah dan ibu sebagai sasaran pemaparan informasi, sementara PIK R/M menjadikan remaja sendiri sebagai penerima informasi dan konseling melalui pelayanan yang diberikan oleh Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya yang telah terlatih. Kedua jenis kelompok tersebut menerima informasi-informasi penting seperti Kesehatan Reproduksi, Napza, Infeksi Menular Seksual, Komunikasi Efektif dll yang diharapkan menjadi modal ilmu dalam mengikuti tumbuh kembang remaja secara positif dan terarah.

Salah satu materi penting lain sebagai substansi dasar Program Generasi Berencana (GenRe) adalah Life Skills atau Keterampilan Hidup. Life Skills adalah pendidikan non formal yang memberikan keterampilan non formal, sosial, intelektual/akademis dan vokasional untuk bekerja secara mandiri. Life skills diperlukan remaja sebagai keterampilan untuk dapat berperilaku positif dan beradaptasi dengan lingkungan, yang memungkinkan remaja mampu menghadapi berbagai tuntutan, godaan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif.

Life Skills yang dikembangkan dalam program GenRe lebih ditekankan pada keterampilan fisik, keterampilan mental, keterampilan emosional, keterampilan menghadapi kesulitan, keterampilan spiritual, dan keterampilan vokasional (kejuruan).

Ketrampilan fisik dalam Life Skills adalah kemampuan seseorang (remaja) untuk mencapai kekuatan, fleksibilitas dan ketahanan fisik. Tidak jarang  remaja menghabiskan waktu semalam suntuk untuk bergadang bersama teman-temannya. Betah di warnet berjam-jam di depan layar komputer untuk bermain game online. Pola makan yang tidak teratur dan tidak tepat pilih juga menjadikan remaja bermasalah dengan kondisi fisiknya. Disinilah keterampilan ini dibutuhkan untuk menyeimbangkan pola makan, olahraga dan kebutuhan untuk beristirahat demi terciptanya remaja sehat. Remaja diharap mampu memahami dan berkomunikasi dengan tubuh sendiri, mengatur pola makan dan memilih makanan yang sehat, melakukan olah raga seperti bersepeda dan basket serta beristirahat (tidur) sebagai salah satu terapi kesehatan.

Keterampilan mental, emosional dan kemampuan menghadapi kesulitan dalam Life Skills berhubungan erat dengan beberapa hal antara lain positive thinking, kesabaran terhadap diri sendiri, kemampuan menghindari diri dari pengaruh negatif, pergaulan, pengembangan prioritas dan tanggung jawab serta termasuk kemampuan untuk mengembangkan rasa humor. Selain itu, remaja diharap mampu menjadi pribadi yang terus termotivasi untuk berprestasi serta tidak menganggap keterbatasan fisik, mental dan sosial nya sebagai hambatan. Secara emosional, remaja dituntut untuk memiliki kemampuan mengendalikan impuls dan mengatasi emosi negatif. Mengembangkan keterampilan mengelola stress membuat remaja mampu memelihara  dirinya sendiri dan orang lain serta mempengaruhi lingkungan sosialnya ketika berhadapan dengan berbagai situasi buruk dan tekanan dari lingkungan, media massa/elektronik serta teman sebaya. Remaja  yang sudah terbiasa mengelola stress, akan selalu siap (berperilaku) menghadapi pengaruh-pengaruh lingkungannya serta mampu membuat keputusan-keputusan yang tidak gegabah. Pola komunikasi interpersonal yang baik dengan orang tua dan orang-orang yang berada dalam lingkungannya juga akan tercipta dengan sendirinya. Godaan-godaan seperti penyalahgunaan napza dan perilaku free sex akan dapat di tolak secara asertif, karena remaja juga telah dibekali dengan keterampilan berkomunikasi dengan baik. Lihatlah betapa penggunaan social media yang tidak tepat telah membawa remaja hidup dalam dunia maya sesungguhnya. Berkenalan dan bertemu dengan orang yang salah serta terlatih mengekspresikan emosi dengan cara negatif kepada orang yang tidak disenanginya melalui status-status digital.

Berikutnya yang paling penting adalah mengenai keterampilan spiritual pada remaja, yang umumnya terasah dengan baik karena telah menjadi suatu kebiasaan sejak kecil dalam keluarga. Sebuah pertanyaan kerap muncul dalam benak kita : “benarkah kehidupan agama remaja kita telah tergantikan oleh budaya-budaya baru seperti gadget, K-Pop, cafĂ© dan fashion?”. Keterampilan spiritual menjadi teman penting dalam kehidupan sehari-hari remaja. Sebagai contoh, melaksanakan puasa dan menerapkan shalat 5 waktu di mana saja remaja berada akan membawa remaja terhindar dari keji dan mungkar, menghilangkan penyakit hati, mampu menahan hawa nafsu serta tetap berada dalam kestabilan emosi.

Life skills terakhir yang penting di miliki remaja adalah keterampilan vokasional atau kejuruan. Keahlian tertentu akan membawa remaja larut dalam aktifitas positif. Selain karena keahlian tersebut memang disenanginya, keahlian tertentu dapat menjadi mesin uang yang memungkinkan remaja menunjang pendapatan keluarga atau minimal untuk pemenuhan kebutuhannya sendiri. Hobi-hobi baru dalam bentuk handycraft dapat diciptakan seperti kreasi bros dan pemasangan payet/bordir di jilbab, pembuatan banner dan theme untuk website tertentu atau bahkan berdagang secara online. Bentuk-bentuk kegiatan positif inilah yang diharapkan ada pada remaja-remaja kita. Karena kreasi akan membuka jalan pada prestasi.

Penguasaan life skills oleh para generasi Indonesia akan memungkinkan mereka memiliki usaha untuk mencapai tujuan nya dan bertanggung jawab atas perbuatan serta mampu memecahkan masalah sebagai solusi yang baik dan tepat. Dibalik itu semua, yang terpenting adalah remaja mampu mengenali dan menghindari hal-hal yang dapat membawa kearah kerusakan moral seperti free sex, Infeksi Menular Seksual serta penyalahgunaan Napza.

Mari remaja Indonesia.. jadilah Generasi yang Berencana..!!!


Penulis adalah Widyaiswara Pertama di BKKBN Prov Aceh
Email: yuniarini@bkkbn.go.id
Facebook : Yunia Makmoer
Twitter : @yuniamakmoer


sumber: http://nad.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=1415

Tuesday, 7 January 2014

Kisah 9 Wanita Muda Ciptakan Perubahan via Pendidikan

Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) menggelar pemutaran “Girl Rising”, sebuah film dokumenter yang menceritakan kisah nyata sembilan wanita muda luar biasa dari sembilan negara di Asia dan Timur Tengah yang berkat pendidikan berhasil menciptakan perubahan di lingkungan mereka.

Pemutaran film tersebut diikuti dengan diskusi panel tentang peranan wanita di Indonesia di dalam bidang politik, pendidikan dan penegakan hukum. Acara ini juga menyentuh permasalahan tentang kekerasan berbasis gender di Indonesia.

Dalam permasalahan itulah, Kedubes AS mengadakan diskusi Peranan Wanita di Indonesia dan pemutaran film dokumenter "Girl Rising: Empowering Youth through Education".

Director for Gender and Women's Participation, The Asia Foundation Hana Satriyo mendiskusikan usaha-usaha organisasi masyarakat untuk menciptakan kesempatan bagi para perempuan lewat program pendidikan.

“Paling tidak ada tiga hal tentang hak perempuan agar maju. Di Indonesia banyak diskriminasi khususnya antarperempuan yang terjadi, karena disebabkan oleh adanya faktor kemiskinan dan kita bisa memerangi kemiskinan tersebut,” ujarnya di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan, Senin (6/1/2013).

Berbicara mengenai hak pendidikan untuk perempuan, dia mengungkapkan alasan mengapa perempuan direndahkan. “Karena ada banyak faktor yang menjadi masalah, seperti kebudayaan yang cukup mengakar yang sejak dulu kaum laki-laki lah yang menjadi seorang pemimpin, bukan perempuan,” ucapnya.

Oleh karena itu, pendidikan untuk kaum perempuan harus berkelanjutan dengan adanya gerakan perempuan, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Perempuan.

ANTARA.com

Thursday, 12 December 2013

Sibuk Organisasi Tetap Lulus Cumlaude

Ada yang bilang jika kegiatan organisasi yang diikuti saat kuliah dapat menjadi penghambat untuk lulus dan meraih nilai memuaskan karena menyita waktu untuk belajar. Namun anggapan tersebut tidak berlaku bagi Chita Faradilla.

prosesi pengesahan kesarjanaan dengan memindah tali toga dari kiri ke kanan.
Mahasiswa jurusan Pendidikan Guru PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu berhasil meraih gelar sarjana dengan meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi untuk jenjang S-1, yaitu 3,83. Prestasi tersebut mampu ditorehkan Chita meski mengikuti berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Menurut gadis kelahiran Bantul, 28 Oktober 1990 itu, rahasia untuk meraih IPK cumlaude adalah melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin. Dalam perkuliahan, warga Kanoman, Banguntapan, Bantul itu menggunakan paket SKS yang ditetapkan oleh kampus karena baru angkatan kedua.

Saya berusaha mempertahankan IP di atas 3,5. Caranya tentu saja dengan belajar di sela kesibukan saya dalam berorganisasi. Karena dengan menjadi aktivis, saya mendapat banyak pengalaman dari organisasi, ujar Chita, seperti dikutip dari situs UNY, Kamis(12/12/2013).

Alumni SMAN 5 Yogyakarta itu mengaku, telah mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sebuah TK di Yogyakarta. Bahkan, pekerjaan tersebut diperoleh sebelum Chita wisuda. Hal tersebut, lanjutnya, merupakan manfaat yang diperoleh atas bekal materi dan praktik yang diperoleh selama perkuliahan.

Kegiatan praktik menghadapi siswa PAUD baru pada saat KKN dan observasi, namun pada semester sebelumnya telah dibekali dengan teori tentang pedagogik. Sekarang, saya  telah mengajar pada sebuah TK di Yogyakarta, sejak sebelum wisuda, ungkap putri sulung M Imam Taufik itu.

Riyani (kiri) mahasiswi lulus tercepat dan Chita Faradilla (kanan) IPK tertinggi 
Cerita berbeda datang dari Riyani. Mahasiswa jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNY itu dinobatkam sebagai lulusan termuda dalam wisuda UNY periode Desember 2013. Dara kelahiran Magelang, 25 Desember 1992 itu tersebut berhasil meraih gelar sarjana dalam usia 21 tahun.

Alumni SMAN 1 Muntilan itu menyatakan, telah memasuki jenjang SD sebelum umurnya mencapai tujuh tahun. Alasan Riyani sederhana, dia ingin bersekolah seperti teman-teman sebayanya.

Pada saat itu Riyani berstatus dititipkan karena secara umur masih belum bisa masuk SD. Namun apabila bisa mengikuti pelajaran dia diizinkan melanjutkan pendidikan tersebut. Dari sinilah warga Kragilan, Progowati, Mungkid, Magelang tersebut terpacu semangatnya untuk selalu menjadi yang terbaik.

Hal itu saya buktikan dengan selalu meraih posisi lima besar sejak kelas 1 hingga kelas 6. Saya tidak menemui kesulitan selama menempuh pembelajaran sejak SD hingga perguruan tinggi, urai Riyani yang meraih IPK 3,68 itu.

Sunday, 24 November 2013

Begini Resep Agar Pelajar Tidak Brutal

Supaya remaja tidak brutal, sejak kecil anak jangan ditinggal-tinggal oleh orangtuanya dengan alasan bekerja. Sehingga anak tersebut kurang pengawasan dan perhatian dari orangtuanya sendiri.

Dosen Ilmu Pendidikan Lingkungan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) Stien Johanna Matakupan, M.Pd berpendapat, dalam keluarga sebenarnya pada usia lima tahun pertama masa pertumbuhan anak-anak sedang dalam masa golden periode. Dalam hal ini orangtua yang berperan besar, misalnya orangtua lebih banyak bekerja dan menyerahkan pendampingan anak kepada pembantu, maka anak akan cenderung bersifat brutal.

“Lalu di lingkungan masyarakat juga bagaimana supaya anak-anak itu bisa berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat agar tidak berkecenderungan dengan hal-hal yang menyimpang,” ujarnya, Kamis (21/11/2013).

Oleh karena itu, pendidikan karakter bagus dibicarakan di kelas (sekolah), namun akan lebih bagus bila dia terjun di masyarakat dan dibenturkan dengan kondisi yang ada. Misalnya ada sekolah-sekolah yang bagus sudah mulai memberikan program anak yang bekerjasama dengan masyarakat atau anak tinggal dengan masyarakat, dia akan mengalami benturan-benturan budaya. Di lain pihak dia akan belajar pada nilai-nilai yang berbeda.

“Kemudian pendidikan karakter juga lebih banyak kepada diskusi dengan orang dari berbagai golongan. Jadi dia paham, harus menghormati dari segala perbedaan, Indonesia beruntung sebenarnya dengan berbagai macam budaya untuk pendidikan karakter, cuma apakah ada kesempatan atau tidak untuk anak-anak untuk mengeksplorasi, terus juga kegiatan di lapangan misalnya pendidikan karakter untuk tekun, berarti dia harus berkegiatan seperti mengolah sampah atau kegiatan yang tangannya jadi kotor, harus menceburkan ke lumpur, harus mengalami yang tidak enak, itu juga sangat kurang dididik, kita hanya banyak fokus kepada pengetahuan seperti menyelesaikan soal, menjawab ulangan, nilai bagus,” ucapnya.

Lebih lanjut, Guru harus memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan hal seperti itu, walaupun muridnya marah dan menangis tidak apa-apa, namun itu proses belajar yang tidak harus melulu senang, tapi juga ada saatnya di mana dia harus merasakan hal-hal yang dia tidak suka.

“Ada juga orangtua yang tidak mengizinkan anaknya melakukan kegiatan yang sulit atau kesusahan, padahal itu adalah pendidikan karakter. Jadi, pendidikan karakter itu membutuhkan juga guru dan orangtua yang harus sedikit tega, contoh lain misalnya memukul juga tidak apa-apa tapi anak harus tahu kenapa dia dipukul, selama ini kan tidak, hanya ada timbul rasa benci anak terhadap orangtua, menjadi pelarian dan akhirnya pergi dari rumah,” ungkapnya. [Okz]

Monday, 18 November 2013

Hei Mahasiswa, Jangan Takut Masa Depan

Pemerintah terus berupaya membangun bangsa yang berkarakter melalui pendidikan. Sebagai konsekuensi atas pembangunan bangsa berkarakter, maka bangsa Indonesia juga harus memiliki sifat mandiri.mandiri.

Demikian disampaikan Pakar Pendidikan Indonesia Darmaningtyas dalam kuliah umum bertema “Pemuda sebagai Inisiator Penggerak Indonesia Emas 2045” di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (Unnes), belum lama ini.

"Kemandirian bukan hanya soal fisik, tetapi soal mental. Ciri dari bangsa yang mandiri antara lain teguh kepada pendirian sendiri dan tidak mudah tergantung dengan bangsa lain," papar Darmaningtyas, seperti dilansir Okezone, Selasa (12/11/2013).

Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. Menurut Darmaningtyas, di Indonesia terdapat fenomena semakin tinggi pendidikan, semakin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya. "Maka perlu adanya suatu usaha untuk mengubah mindset tentang kehidupan," jelasnya.

Sebagai penutup, Darmaningtyas mengutip kalimat dari Moh Hatta sebagai pesan kepada para mahasiswa yang hadir. “Hanya suatu bangsa yang telah menyingkirkan perasaan tergantung saja yang tidak takut akan hari depan. Hanya suatu bangsa yang paham akan harga dirinya maka cakrawalanya akan terang benderang,” tutup Darmaningtyas.

Okezone.Com

IPK Tinggi tak Cukup untuk Sukses

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan lagi satu-satunya ukuran yang menjamin kesuksesan seseorang di dunia kerja. Nilai akademis yang baik akan menjadi paket lengkap meraih kesuksesan jika ditambah dengan kerja keras yang dilakukan sepenuh hati.

Pendapat tersebut disampaikan Ketua Ombudsman Danang Girindrawardana di hadapan para calon wisudawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jebolan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM itu mengingatkan, IPK tinggi tidak menjamin seseorang meraih keberhasilan.

IPK tinggi, lanjutnya, hanya menjadi salah satu kunci pintu masuk kesuksesan. Apapun pilihan Anda, jika tanpa memaksimumkan diri tentu tidak akan berhasil. Karena keberhasilan lebih ditentukan tindakan sesorang dengan sepenuh hati dan sepenuh aksi, kata Danang, seperti dinukil dari laman UGM, Minggu (17/11/2013).

Sementara itu, pembicara lainnya, yakni Pimpinan Yayasan Ani-ani Jewellery Budi Utomo mengungkap, keberhasilan bisa dilihat ketika sebuah profesi bisa menghidupi diri sendiri sekaligus menghidupi orang lain. Sementara pengalaman panjang, tambahnya, bisa mengantar seseorang pada pemahaman apa yang sebenarnya diinginkan selama ini.

Pada kesempatan itu, Pengelola Desa Wisata Brayut, Pendowoharjo, Sleman tersebut juga berbagi pengalaman dalam menjalankan sebuah bisnis. Menurut Budi, perencanaan dan riset-riset pasar penting dilakukan bagi calon pebisnis muda. Karena pasar pun terkadang tidak tahu apa yang dibutuhkan.

Oleh karena itu, kata Budi, para pebisnis muda harus jeli dalam melihat kesempatan dan tidak mudah putus asa. Inilah yang membutuhkan kejelian kita dan ditolak diawal-awal itu sudah biasa, tutur Budi.

Budi bercerita, pengenalan terhadap dunia kerajinan dan UMKM didapat saat bekerja pada perusahaan handycraft milik pengusaha Belanda di Bali. Merasa bosan dengan aturan-aturan, sistem, jadwal ketat dan lain-lain, Budi pun memutuskan mandiri dan membuka usaha sendiri.

Karenanya proses kreatif dimulai. Dunia pernak pernik cukup menantang dan saya teringat sejak kecil terbiasa bikin pensil sendiri, menghias kamar, dan lain-lain. Itu semua dimulai pada 2006 sejak saya kembali ke Yogyakarta, tutupnya.


ANTARA.News.Com

Wednesday, 9 October 2013

Cara Intelek Kampus Lawan Korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kian garang memberantas korupsi di Tanah Air. KPK konsisten menyelidiki, menangkap dan mengadili koruptor yang berada hingga di lembaga-lembaga tinggi negara. Terakhir, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar pun tidak luput dari borgol KPK.
Tetapi, KPK tidak bisa sendirian memberantas korupsi yang sudah mengakar kuat di Indonesia. Upaya hukum yang dilakukan KPK ini perlu dibarengi dengan upaya pendampingan dari pihak lain, termasuk perguruan tinggi. Caranya adalah melalui pendidikan anti-korupsi (PAK).
Mahasiswa yang merupakan agen perubahan sosial diharapkan dapat fokus membangun budaya antikorupsi di masyarakat. PAK pun menjadi penting sebagai bekal pengetahuan mahasiswa tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya. Tidak hanya itu, mahasiswa juga harus dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai antikorupsi dalam kehidupan sehari-hari. Demikian seperti dikutip dari materi presentasi Ditjen Dikti Kemendikbud tentang Pendidikan Anti Korupsi, Rabu (9/10).
PAK sendiri bisa berupa sosialisasi, kampanye, seminar, diskusi hingga mata kuliah wajib atau pilihan yang diselenggarakan di perguruan tinggi. Beberapa kampus mengajarkan materi antikorupsi, seperti dalam mata kuliah Sosiologi Korupsi. Kampus lainnya juga gencar memberikan PAK melalui sosialisasi, kampanye atau seminar.
Sejak 2006, KPK telah melakukan kerjasama dalam hal PAK dengan berbagai perguruan tinggi seperti Unika Soegijapranata dan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Universitas Paramadina menjadikan PAK sebagai mata kuliah wajib sejak 2008, bobotnya dua SKS. Sementara itu di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Nasional (Unas), PAK dengan beban dua SKS menjadi mata kuliah pilihan.
Kampus lainnya tidak mau ketinggalan, mereka menyisipkan materi PAK ke dalam mata kuliah tertentu. Misalnya, Universitas Padjadjaran (Unpad) menyisipkan materi PAK ke dalam mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). Kedelapan MPK itu adalah Pendidikan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Agama, Pancasila, Ilmu Budaya Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Alamiah Dasar. Selain memperkaya pengetahuan mahasiswa tentang korupsi, Unpad juga memfokuskan PAK kepada aspek afeksi dan psikomotorik.
Sama dengan Unpad, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta juga menyisipkan PAK ke tujuh mata kuliah umum. Pihak kampus tidak ingin menambah beban mahasiswa dengan menjadikan PAK mata kuliah tersendiri. Ketujuh mata kuliah yang disisipi PAK adalah Pendidikan Kewarganegaraan, Pancasila, Agama, Bahasa IndonesiaIlmu Kealaman Dasar, Ilmu Sosial Budaya Dasar dan Kewirausahaan.
Agar visi dan misi PAK tercapai, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun membuat acuan buku ajar untuk PAK. Sesuai buku ini, mahasiswa akan mempelajari delapan topik utama yaitu pengertian korupsi; faktor penyebab korupsi; dampak masif korupsi; nilai dan prinsip antikorupsi; upaya pemberantasan korupsi di Indonesia; gerakan, kerjasama dan instrumen internasional pencegahan korupsi; tindak pidana korupsi dalam peraturan perundang-undangan; dan peran mahasiswa dalam gerakan antikorupsi.
Perkuliahan PAK dilaksanakan selama satu semester sebanyak 14-16 kali pertemuan tatap muka. Kedelapan topik tadi diberikan dalam delapan kali pertemuan. Sementara itu, delapan pertemuan lainnya bisa diisi dengan kuliah umum dari para tokoh pemberantasan korupsi, studi kasus, pemutaran film dan analisisnya, tugas investigasi, tugas observasi, tugas pembuatan makalah, tugas pembuatan prototipe teknologi yang terkait dengan pemberantasan korupsi, dan tugas-tugas lain yang disesuaikan dengan karakteristik program studi pada perguruan tinggi masing-masing.
Selain PAK secara struktural dari kampus, banyak juga kegiatan mahasiswa yang mengedepankan nilai-nilai antikorupsi. Misalnya, kampanye ujian bersih. Caranya berupa pembuatan media prograganda berupa baliho, spanduk dan poster atau melalui media online. Organisasi kemahasiswaan juga menanamkan kampanye ujian bersih dan nilai kejujuran ini pada proses kaderisasi.
Bahkan, mahasiswa di beberapa kampus membentuk komunitas antikorupsi. Di Universitas Brawijaya (UB) Malang ada Komunitas Trapesium dan di Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar ada Komunitas Garda Tipikor.
ANTARA.Com